Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Duh, Kinerja Manufaktur di Jepang Merosot, Terendah Sejak 2011

Kinerja manufaktur di Jepang merosot bahkan menyentuh titik terendah saat tsunami 2011
Aktivitas di pabrik mobil Toyota di Jepang. ANTARA/Toyota
Aktivitas di pabrik mobil Toyota di Jepang. ANTARA/Toyota

Bisnis.com, JAKARTA— Kinerja manufaktur Jepang pada April merosot bahkan menyentuh titik terendah yakni saat tsunami 2011 akibat virus corona membekukan permintaan dalam dan luar negeri.

Dikutip dari Bloomberg, Jumat (29/5/2020), produksi industri pada April turun 9,1 persen dibandingkan dengan Maret. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan Jepang, penurunan tersebut merupakan penurunan yang ketiga kalinya yang dipimpin oleh produksi otomotif dan baja.

Kendati demikian, kalangan ekonom memproyeksikan penurunan sebesar 5,7 persen. Sementara itu, penjualan eceran merosot 9,6 persen dibandingkan Maret dan turun 13,7 persen secara tahunan. Hal itu terjadi karena konsumen berada di rumah sejak pemerintah menetapkan status darurat pada pertengahan April.

Menariknya, angka pengangguran naik lebih rendah dari ekspektasi. Kalangan analis menyebut ketahanan Jepang terhadap angka pengangguran hanya sementara karena penurunan produksi bakal berlanjut dan mendorong pemangkasan tenaga kerja di bulan berikutnya.

Ekonom Bloomberg Yuki Masujima menilai penurunan produksi pabrik akan berlanjut di kuartal II/2020. Hal itu tercermin pada permintaan listrik yang lemah pada Mei.

“Menunjukkan suspensi fasilitas blast furnace (fasilitas pengolahan logam) dan pabrik lainnya,” katanya.

Adapun, angka pengangguran masih bertengger di 2,6 persen pada April padahal analis berharap tingkat pengangguran mencapai 2,7 persen.

Menariknya, jumlah pekerjaan dan pelamar kerja timpang. Jumlah pekerjaan lebih tinggi dibandingkan jumlah pelamar kerja. Rasio pekerjaan dan pelamar kerja menyentuh angka 1,32.

Artinya, terdapat 132 tawaran pekerjaan terhadap setiap 100 pelamar kerja. Kendati masih timpang, angka tersebut telah menurun dalam empat bulan berturut-turut yang merupakan penurunan terpanjang sejak krisis finansial pada 2009.

Sebelumnya, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengumumkan US$1,1 triliun paket ekonomi. Angka tersebut naik dua kali dari stimulus yang dirilis sebelumnya sehingga volumenya mencapai 40 persen dari produk domestik bruto (PDB).  

Kendati status darurat telah dicabut, kalangan ekonom memprediksi bahwa kontraksi ekonomi bakal menyentuh lebih dari 20 persen pada kuartal II/2020 atau terendah sejak 1955. Di sisi lain, pemulihan cenderung lambat karena kinerja sektor ekspor, pariwisata dan investasi yang juga perlu waktu untuk kembali pulih.

“Sebuah kurva pemulihan berbentuk V tak mungkin,” ujar Ekonom HIS Markit Harumi Taguchi.

Dia menilai imbas virus corona akan bertahan dan pekerjaan juga pendapatan bakal sangat menderita. Menurutnya, produksi pabrik yang lemah akan mendorong angka pengangguran di sektor manufaktur.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Sumber : Bloomberg
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper