Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pengembang Rumah Subsidi Maklumi Penjualan Anjlok Kuartal I/2020

Penurunan penjualan hunian bersubsidi lantaran belum kondusifnya industri properti dengan segala sentimen yang mengadang.
Ilham Budhiman
Ilham Budhiman - Bisnis.com 13 Mei 2020  |  17:45 WIB
Pekerja beraktivitas di proyek perumahan bersubsidi, di Bogor, Jawa Barat, Senin (4/9). - JIBI/Nurul Hidayat
Pekerja beraktivitas di proyek perumahan bersubsidi, di Bogor, Jawa Barat, Senin (4/9). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia memaklumi penjualan rumah selama kuartal I/2020 turun signifikan.

Survei Bank Indonesia mencatat penjualan rumah di pasar primer selama 3 bulan pertama tahun ini anjlok 30,52 persen atau lebih dalam dari kuartal sebelumnya sebesar -16,33 persen.

Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah menilai wajar penurunan tersebut lantaran belum kondusifnya industri properti dengan segala sentimen yang mengadang.

"Betul dan pasti [terjadi penurunan]. Apalagi, kondisi sekarang saya pikir wajar saja namanya sedang bencana sehingga realisasi penjualan tertahan," katanya kepada Bisnis, Rabu (13/5/2020).

BI mencatat penurunan terjadi pada seluruh tipe rumah baik rumah besar 41,01 persen, rumah tipe menengah -34,39 persen, dan tipe rumah kecil -26,09 persen. Artinya, kata Junaidi, segmen rumah subsidi juga turut terdampak. 

Dia juga merespons soal survei BI bahwa suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) menjadi faktor utama penyebab realisasi penjualan properti residensial masih terhambat meskipun rata-rata suku bunga KPR pada kuartal I/2020 pada data laporan bulanan bank umum per Maret 2020 tercatat sebesar 8,92 persen atau lebih rendah dari kuartal sebelumnya sebesar 9,12 persen.

Namun, katanya, kondisi saat ini suku bunga KPR masih tinggi di tengah sudah turunnya suku bunga acuan BI. Menurutnya, perbankan sudah seharusnya merespons penurunan tersebut secara signifikan.

"Sudah sepatutnya harus banyak relaksasi terkait suku bunga dengan harapan tetap terjaganya industri properti dan akhirnya mengarah pada permintaan pasar. Selama ini, faktanya suku bunga acuan BI turun tidak diiringi segera dengan penurunan suku bunga KPR," katanya.

Menurut Junaidi, selain faktor suku bunga KPR, faktor lain yang jadi penghambat adalah kurangnya cakupan penerima KPR di segmen masyarakat berpenghasilan rendah.

"Bank saat ini lebih selektif dalam hal konsumen dan lebih fokus pada penghasilan ASN [aparatur sipil negara], TNI, Polri. Menurut saya, harus juga bisa menampung jenis usaha lain," katanya.

Dia juga mengatakan bahwa anjloknya penjualan rumah kelas menengah ke bawah secara tahunan lantaran terbatasnya kuota subsidi saat itu. Secara tahunan, BI mencatat penjualan rumah mengalami penurunan yang hebat yakni 43,19 persen dari kuartal sebelumnya sebesar 1,19 persen.

"Namun, [ke depan] masih ada harapan untuk properti kelas menengah ke bawah atau subsidi dengan catatan bank tetap bisa merealisasikan atau seharusnya tidak harus menolak dalam hal realisasi KPR [untuk segmen tertentu]," ujar Junaidi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

apersi rumah bersubsidi
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top