Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tarif Kargo Maskapai Reguler Belum Tentu Tekan Biaya Pengiriman

Supply Chain Indonesia menilai pergeseran maskapai angkutan penumpang yang mulai mengangkut kargo dinilai tidak serta merta membuat tarif pengiriman lebih murah.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 05 Mei 2020  |  18:49 WIB
Tarif Kargo Maskapai Reguler Belum Tentu Tekan Biaya Pengiriman
Petugas melakukan bongkar muat barang di Terminal Kargo Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin (25/2/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pergeseran maskapai angkutan penumpang yang mulai mengangkut kargo udara dinilai tidak serta merta membuat tarif kargo udara menjadi lebih terjangkau. Sebaliknya, angkutan udara khusus kargo tanpa penumpang dapat membuat biaya pengiriman menjadi lebih mahal.

Senior Consultant Supply Chain Indonesia (SCI) Joni Gusmali mengatakan dalam konteks rantai pasok yang terpenting adalah memastikan pada keadaan darurat jalur pasokan kargo udara vital tetap terbuka, efisien, dan efektif. Selama ini tarif pengiriman barang memakai pesawat penumpang dan kargo atau passenger and cargo aircraft (PCA) atau pengiriman campuran memang lebih murah dibandingkan dengan hanya pesawat khusus kargo atau cargo aircraft only (CAO).

"Akan tetapi CAO mempunyai kelebihan dapat lebih leluasa mengangkut barang berbahaya [dangerous goods], barang cepat busuk [perishable], Hewan hidup [live animal], dan barang-barang khusus lainnya dan dengan rute yang lebih leluasa pula. Dengan demikian harga pengiriman memakai CAO akan lebih mahal," jelasnya kepada Bisnis.com, Selasa (5/5/2020).

Artinya, terang Joni, dengan mulai bergesernya maskapai penumpang mengangkut kargo udara secara khusus tidak membuat biaya pengiriman menggunakan jalur udara menjadi lebih murah, karena biasanya kargo hanya menjadi sampingan dari pengangkutan penumpang yang sudah menguntungkan.

Namun, memang krisis akibat virus corona atau Covid-19 membuat hampir seluruh armada pesawat penumpang di seluruh dunia tidak terbang; armada pesawat penumpang tersebut yang biasanya mengangkut hampir setengah dari total pengiriman kargo udara.

"Maskapai-maskapai [akhirnya] berusaha keras untuk memenuhi kesenjangan antara permintaan kargo dan angkutan yang tersedia dengan berbagai cara yang mungkin, termasuk memperkenalkan kembali layanan kargo dengan menggunakan pesawat penumpang untuk operasi kargo," paparnya.

Sebanyak enam maskapai menyulap armadanya menjadi pengangkut kargo semenjak adanya pelarangan mudik Lebaran 2020. Biasanya, armada tersebut digunakan untuk mengangkut penumpang. Kini, enam maskapai tersebut menyulapnya menjadi angkutan kargo dari dan ke Bandara Soekarno Hatta, Tangerang. Keenam maskapai tersebut, yakni Garuda Indonesia, Sriwijaya Air, NAM Air, Citilink, Lion Air dan Airfast.

Tujuannya, dengan armada pesawat penumpang yang kini difungsikan khusus untuk angkutan kargo itu, maka lalu lintas pengiriman barang terutama dari pusat distribusi angkutan udara barang  yaitu dari dan ke Bandara Soekarno-Hatta diupayakan tetap berjalan lancar. Adapun di rute internasional terdapat juga maskapai yang mengoperasikan pesawat khusus kargo (freighter) di Soekarno-Hatta yaitu MyIndo dan Cargolux.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

logistik
Editor : Rio Sandy Pradana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top