Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Efektivitas Kartu Prakerja Dipertanyakan, Ini Jawaban Pemerintah

Efektivitas Program Kartu Prakerja dipermasalahkan lantaran jumlah pendaftar yang sangat tinggi tidak sebanding dengan kuota yang tersedia.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 27 April 2020  |  16:56 WIB
Petugas mendampingi warga yang melakukan pendaftaran calon peserta Kartu Prakerja di LTSA-UPT P2TK di Surabaya, Jawa Timur, Senin (13/4/2020). - ANTARA FOTO/Moch Asim
Petugas mendampingi warga yang melakukan pendaftaran calon peserta Kartu Prakerja di LTSA-UPT P2TK di Surabaya, Jawa Timur, Senin (13/4/2020). - ANTARA FOTO/Moch Asim

Bisnis.com, JAKARTA - Efektivitas Program Kartu Prakerja dipermasalahkan lantaran jumlah pendaftar yang sangat tinggi tidak sebanding dengan kuota yang tersedia.

Direktur Komunikasi Manajemen Pelaksana Kartu Prakerja Panji Winanteya Ruky mengatakan proses penyaringan dari awal hingga peserta dapat mengakses pelatihan secara daring telah memprioritaskan mereka yang benar-benar membutuhkan dan terdampak pandemi Covid-19.

"Jumlah pendaftar yang jauh lebih besar dibanding kursi yang tersedia, sudah didata secara prioritas, agar didahulukan ke yang terdampak Covid-19," katanya, Senin (27/4/2020).

Panji menjelaskan ada beberapa tahapan mulai dari pendaftaran hingga penerimaan peserta Kartu Prakerja, termasuk proses screening peserta yang benar-benar membutuhkan bantuan insentif tersebut karena pandemi Covid-19.

Pertama, pada proses pendaftaran, calon peserta harus mengisi identitas diri. Mungkin terlihat mudah, namun kebanyakan peserta gagal diverifikasi karena data pribadi yang diisi salah atau terjadi silap.

Kedua, kegagalan paling banyak karena foto yang diunggah peserta tidak dapat dibaca oleh sistem. Namun, jika terjadi kegagalan karena foto yang tidak dapat dibaca sistem, calon peserta masih bisa kembali mengunggahnya dan mengikuti gelombang selanjutnya.

Setelah proses pendaftaran, Manajemen Pelaksana Kartu Prakerja akan mengecek database Kemensos untuk mengetaui apakah calon peserta merupakan penerima bantuan sossial. Jika calon peserta merupakan penerima bansos, maka manajemen akan mendahulukan yang belum.

Selanjutnya, calon peserta yang telah tersaring akan dicek lagi di database kementerian dan lembaga, apakah pendaftar tersebut terdampak Covid-19.

"Pendataan kemneterian dan lembaga ini terhadap pekerja yang di-PHK, dirumahkan atau pekerja mikro yang terdampak. Jadi mereka mendapatkan kuota khusus untuk didahulukan, setelahnya baru masyarakat umum," jelasnya.

Panji mengatakan, tahap terakhir proses pendaftaran yaitu proses pemlihan peserta yang dilakukan dengan teknik randomisasi, sehingga tidak melibatkan diskresi dan subjektivitas manajemen pelaksana.

"Misalnya yang sudah tersaring 1 juta, ilustrasinya kami ambil 140.000 orang dari 1 juta, di situ kemudian ada pengacakan dari sistem informasi, sistem ini yang paling adil secara statistik dan menghindari diskresi," jelasnya.

Hingga saat ini, Panji mengatakan pendaftar Kartu Prakerja telah mencapai 8 juta peserta. Peserta pada gelombang pertama yang sudah bisa melakukan pelatihan sebanyak 168.11 orang.

Panji menambahkan, karena jumlah pendaftar yang sangat banyak, manajemen pelaksana akan terus berupaya mningkatkan kapasitas gelombang dan akan terus memperbaiki layanan Kartu Prakerja.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kartu prakerja
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top