Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pertumbuhan Industri Alat Berat Makin Berat Terdampak COVID-19

Kapasitas produksi alat berat pada semester satu diramalkan akan susut sekitar 34,7 persen secara tahunan. COVID-19 dan pelemahan kurs dinilai sebagai penyebab utamanya.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 04 April 2020  |  13:55 WIB
Pekerja dibantu alat berat menyelesaikan proyek pembangunan Jalan Tol Serpong-Cinere di kawasan Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Minggu (1/3/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Pekerja dibantu alat berat menyelesaikan proyek pembangunan Jalan Tol Serpong-Cinere di kawasan Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Minggu (1/3/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Kapasitas produksi alat berat pada semester satu diramalkan akan susut sekitar 34,7 persen secara tahunan. COVID-19 dan pelemahan kurs dinilai sebagai penyebab utamanya.

Himpunan Industri Alat Berat (Hinabi) meramalkan pabrikan alat berat pada semester I/2020 hanya akan mampu memproduksi sekitar 35-40 persen dari target akhir tahun. Biasanya pabrikan dapat memproduksi sekitar 55-60 persen dari target akhir tahun.

"Tadinya saya mencanangkan [pertumbuhan produksi minus] 7 persen [tahun ini], tapi di Maret kemarin saya memutuskan ini [menjadi minus] 15 persen. Jadi, tidak ada optimisme sekarang, tidak mengurangi karyawan sudah bagus," ujar Ketua Hinabi Jamalludin kepada Bisnis, Jumat (3/4/2020).

Jamalludin berujar pada tahun lalu alat berat yang berhasil diproduksi sebanyak 6.060 unit. Dengan kata lain,asosiasi merubah target awal 2020 sebanyak 5.636 unit menjadi 5.151 unit.

Adapun, utilitas akan turun dari sekitar level 60 persen menjadi sekitar 51 persen hingga akhir tahun ini. Jamalludin menyatakan sebagian pabrikan sudah mulai mengurangi tenaga kerjanya untuk meringankan beban arus kas.

"Total tenaga kerja industri alat berat [sekitar] 22.000 dengan kapasitas produksi [sekitar] 10.000 [unit per tahun]. Kalau sekarang [proyeksi produksi] 5.000 unit, apa iya kami bertahan dengan 22.000 tenaga kerja?" ujarnya.

Jamalludin telah meminta beberapa langkah yang harus dilakukan pemerintah agar tren penurunan produksi tidak berlanjut ke semester II/2020. Jamalludin setidaknya tiga proposal.

Pertama, memprioritaskan produk alat berat lokal daripada produk impor. Jamalludin menilai langkah tersebut perlu dilakukan agar pabrikan dapat mengeluarkan alat berat di gudang industri.

Oleh karena itu, Jamalludin menilai perlu adanya harmonisasi regulasi antara Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan. "Caranya, kami minta implementasi TKDN [tingkat komponen dalam negeri]. Sekarang sudah di sekitar level 40 persen."

Kemudian, peningkatan kompetensi sumber daya manusia industri alat berat denagn perumusan standar kompetensi kerja nasional (SKKNI) remanufakturing industri alat berat.

Di sisi lain, Jamalludin berharap kurs rupiah juga dapat kembali normal, setidaknya kembali ke posisi awal Maret di sekitar Rp14.900. Pasalnya, lanjutnya, asosiasi telah menurunkan target produksi menjadi minus 15 persen dengan acuan kurs tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

alat berat
Editor : Nurbaiti
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top