Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mulai Besok, 30 Produsen APD Beroperasi Penuh

Dari seluruh produsen APD yang ada, lima perusahaan sedang menggenjot produksinya. Sisanya, dalam persiapan meningkatkan produksi yang ditargetkan beroperasi awal April 2020.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 31 Maret 2020  |  14:58 WIB
Petugas kesehatan di Spanyol menggunakan kantong sampah sebagai alat pelindung diri saat menolong pasien virus corona Coovid-19. - Bloomberg
Petugas kesehatan di Spanyol menggunakan kantong sampah sebagai alat pelindung diri saat menolong pasien virus corona Coovid-19. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah mencatat saat ini telah ada 30 perusahaan yang lama bergerak dibidang alat pelindung diri (APD) maupun perusahaan eksisting yang mendiversifikasi produknya guna memenuhi kebutuhan pekerja medis dalam negeri.

Dari seluruh produsen APD yang ada, lima perusahaan sedang menggenjot produksinya. Sisanya, dalam persiapan meningkatkan produksi yang ditargetkan beroperasi awal April 2020.

Pemerintah pun menjamin kebutuhan bahan baku sudah tersedia untuk mengejar distribusi pada akhir April 2020 sebanyak 5 juta – 10 juta APD.

Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Elis Masitoh mengatakan keseluruhan perusahaan tersebut tersebar di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Banten.

Selain itu ada pula sejumlah perusahaan penyedia bahan baku yang akan mendukung produksi APD dalam negeri.

Elis menyebut seperti PT Multispunindo dan PT Hadtex, mereka akan menjadi produsen bahan baku selain mendatangkan dari China agar produksi berjalan sesuai harapan.

"Harapanya itu APD akan diproduksi sebanyak 17,8 juta paket per bulan dan untuk baju medis atau surgical gown sebesar 508.800 paket per bulan [tabel di bawah]. Seiring permintaan yang meningkat perusahaan produsen APD akan terus bertambah," katanya kepada Bisnis, Selasa (31/3/2020).

Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kemenperin, Muhammad Khayam mengatakan produsen APD tengah menghitung kemampuan produksinya hingga 6-8 bulan mendatang.

Perhitungan ini akan disesuaikan dengan jadwal distribusi ke setiap pengguna, seperti rumah sakit yang memang sangat memerlukan.

Khayam menyebut dalam kondisi normal atau ketika belum adanya wabah Covid-19, industri APD di dalam negeri memproduksi sebanyak 1 juta unit per bulan.

“Untuk itu dengan keterlibatan industri tekstil, kapasitas produksi APD kita bisa lebih dari 17 juta unit per bulan. Kami proyeksi, hingga Mei 2020 kebutuhan APD dalam negeri sekitar 3-5 juta unit,” katanya.

APD yang sedang dibutuhkan meliputi pakaian, tutup kepala, masker, handuk, sarung tangan, pelindung kaki, pelindung tangan dan kacamata pelindung wajah (goggles).

Dalam upaya memasok kebutuhan APD ini, Kemenperin terus berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Kesehatan.

Adapun kebutuhan masker untuk mengantisipasi penyebaran Covid–19 ini diperkirakan mencapai 162 juta buah per bulan. Sementara itu, kapasitas produksi di dalam negeri sebesar 131 juta per bulan.

Pelengkap lainnya, yaitu sarung tangan karet, mampu diproduksi di dalam negeri dengan kapasitas nasional sebesar 8,6 miliar buah. Jenis sarung tangan yang dihasilkan pada umumnya berupa medical gloves, seperti examination gloves dengan persentase produksi 97 persen dan surgical gloves 3 persen.

Sarung tangan karet berjenis surgical itu memiliki ukuran yang lebih detail dengan sensitivitas lebih tinggi. Pembuatannya menggunakan standar tinggi, karena penggunaan untuk proses operasi atau tindakan yang memerlukan prosedur sensitif dan steril.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kemenperin apd
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top