Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Jelang Ramadan, Sektor Properti Masih Wait and See

Masyarakat biasanya menahan diri untuk tidak membeli properti pada masa Ramadan dan Lebaran. Pandemi virus corona menjadi faktor penekan lain.
Ilham Budhiman
Ilham Budhiman - Bisnis.com 30 Maret 2020  |  03:39 WIB
Foto udara kawasan perumahan di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (23/2/2020). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya
Foto udara kawasan perumahan di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (23/2/2020). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA — Jelang Ramadan, pengembang properti memprediksi masyarakat dan kalangan investor masih tetap melakukan sikap wait and see menyusul mewabahnya virus corona jenis baru di Indonesia.

Ketua Umum Asosiasi Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah mengatakan permintaan hunian bersubsidi dinilai sangat tinggi jika dalam kondisi normal.

"Permasalahannya, Ramadan tahun ini sulit diprediksi mengingat bersamaan dengan adanya wabah COVID-19," ujarnya kepada Bisnis, Minggu (29/3/2020).

Junaidi mengaku permintaan hunian bersubsidi menjelang Ramadan memang tidak terlalu signifikan terhadap pasar properti. Hal ini berkaca pada pengalaman Ramadan 2019.

Namun, jika melihat kondisi saat ini yang penuh dengan ketidakpastian karena belum teratasinya wabah corona di Indonesia, maka transaksi properti cenderung terhambat.

Ketika dihubungi secara terpisah, Commercial and Business Development Director AKR Land Alvin Andronicus menyampaikan pada umumnya, momen Ramadan dan Lebaran menunjukkan adanya penurunan pembelian properti, mengingat publik lebih mengutamakan hal-hal yang bersifat konsumtif.

Namun, dia tak memungkiri sebagian masyarakat juga biasanya sudah ada yang telah berencana dan mengalokasikan uang Tunjangan Hari Raya (THR) untuk menambah pendanaan pembelian properti.

Saat ini, lanjut Alvin, masyarakat akan lebih cenderung mengalokasikan dananya ke sektor yang berbiaya rendah serta untuk jangka pendek. Adapun sektor properti termasuk kebutuhan dasar dan bersifat investasi jangka panjang.

Sejalan dengan itu, maka pelaku bisnis properti mau tak mau harus melakukan berbagai terobosan agar penjualan tetap terserap pasar seperti meringankan uang muka, memberi perpanjangan waktu angsuran, serta menambah gimmick melalui subsidi biaya bunga angsuran bank.

Adapun Direktur PT Ciputra Development Tbk. Harun Hajadi mengungkapkan saat ini, pihaknya tidak mengharapkan penjualan perumahan yang signifikan di tengah adanya penerapan jarak aman antara satu orang dengan orang lainnya atau physical distancing.

"Jika keadaan sudah normal, maka penjualan akan kembali dengan cepat. Karena, yang terjadi adalah pent up demand yaitu permintaan yang besar setelah adanya supresi pengeluaran," tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

properti Ramadan Virus Corona
Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top