Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pemerintah Guyur Insentif, Ekonom: Kecepatan Jadi Poin Penting

Pemerintah tengah mengkaji penyesuaian BBM, baik subsidi maupun nonsubsidi seiring dengan turunnya harga minyak dunia.
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 20 Maret 2020  |  16:54 WIB
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara (kanan) dan Peneliti Indonesia for Global Justice (IGJ) Hafidz Arfandi memberikan paparan dalam diskusi bertajuk Di Bawah Bayangan Perang Dagang & Ancaman Defisit Berkepanjangan, di Jakarta, Selasa (18/6/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara (kanan) dan Peneliti Indonesia for Global Justice (IGJ) Hafidz Arfandi memberikan paparan dalam diskusi bertajuk Di Bawah Bayangan Perang Dagang & Ancaman Defisit Berkepanjangan, di Jakarta, Selasa (18/6/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA—Sejumlah pihak menilai berbagai stimulus yang diguyur pemerintah pusat untuk menanggulangi Covid-19 harus diikuti dengan kecepatan dari segi implementasinya.

Sesuai instruksi Presiden Joko Widodo melalui video conference dengan Kabinet Indonesia Maju, Rabu (18/3/2020), pemerintah tengah mengkaji penyesuaian BBM, baik subsidi maupun nonsubsidi seiring dengan turunnya harga minyak dunia.

Tak hanya itu, penyesuaian tarif dan harga atas sejumlah utilitas sehari-hari antara lain penundaan tarif listrik dan penurunan harga gas bakal memacu daya beli masyarakat di tengah perlambatan ekonomi dan penyebaran Covid-19.

Ekonom Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan daya beli masyarakat, khususnya kalangan kelas bawah paling terdampak akibat adanya social distancing dan pelemahan ekonomi saat ini.

“Multiplier effect-nya juga besar ketika harga LPG 3 kg turun misalnya. Setidaknya biaya produksi pedagang UMKM juga terbantu,” katanya ketika dihubungi Bisnis, Jumat (20/3/2020).

Apalagi, harga minyak dunia saat ini sudah turun sehingga penyesuaian harga BBM seharusnya bisa dilakukan dengan cepat, begitu pula dengan tarif listrik dan LPG 3 kg. “Momentumnya jangan sampai lewat,” jelasnya.

Pada saat yang sama, Direktur Eksekutir Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal mengemukakan tarif BBM, listrik, dan gas merupakan kebutuhan dasar sehingga memiliki dampak signifikan terhadap inflasi.

Dalam situasi perlambatan ekonomi dan wabah Covid-19, kalangan yang paling rentan adalah menengah ke bawah. Upaya pemerintah diakuinya harus cepat untuk memacu daya beli kalangan kelas menengah ke bawah sekaligus menjaganya supaya mereka tidak jatuh ke dalam jurang kemiskinan.

Selain itu, pemberian stimulus I dan II yang dilakukan pemerintah diakuinya bisa berdampak positif untuk meringankan dampak perlambatan ekonomi dan wabah covid-19 ini.

Hingga saat ini, insentif fiskal dan nonfiskal kebanyakan mengarah kepada sektor manufaktur. Padahal, sektor-sektor lainnya misalnya pariwisata, logistik, dan ritel juga terpukul akibat kondisi saat ini.

“Yang penting adalah harus cepat karena ini seringkali stimulus diumumkan tapi lambat eksekusinya. Stimulus pertama aja di banyak pelaku sektor pariwisata masih belum dapat. Jadi itu yang penting [kecepatan], penting dari sisi kecepatan responsnya,” tekannya.

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jokowi stimulus ekonomi
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top