Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

INACA Minta Relaksasi Kebijakan Bank Indonesia

Saat ini suku bunga pinjaman investasi untuk leasing pesawat sebesar 12 hingga 13 persen. Biasanya ditambah dengan tata cara dan ketentuan admnistrasi yang sulit dan mengikat.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 17 Maret 2020  |  20:48 WIB
CEO Whitesky Aviation Denon Prawiraatmadja sedang menjelaskan tahapan proyek heliport di kawasan Bandara Soekarno-Hatta, Senin (15/4/2019). JIBI/Bisnis - Rio Sandy Pradana
CEO Whitesky Aviation Denon Prawiraatmadja sedang menjelaskan tahapan proyek heliport di kawasan Bandara Soekarno-Hatta, Senin (15/4/2019). JIBI/Bisnis - Rio Sandy Pradana

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia National Air Carrier Association (INACA) mengusulkan agar Bank Indonesia melakukan sejumlah pelonggaran kebijakan moneter terhadap industri penerbangan Tanah Air.

Ketua Umum INACA Denon Prawiraatmadja berharap otoritas moneter melonggarkan kebijakan yang sebelumnya melarang kontrak dalam mata uang asing. Selama ini persoalan nilai tukar menjadi faktor pemberat industri ini karena menerima pendapatan dalam bentuk rupiah, tetapi mengeluarkan biaya dalam bentuk dolar AS.

“Kami sampaikan nilai tukar mata uang Indonesia dengan mata uang negara produsen cukup jauh perbedaannya. Ini banyak pengaruhnya terhadap tingkat efisiensi penerbangan,” jelasnya, Selasa (17/3/2020).

Dia menambahkan bentuk relaksasi lain adalah penurunan suku bunga pinjaman. Bank Indonesia, yang memiliki kewenangan dalam mengatur suku bunga acuan, bisa berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Pihaknya menyebut saat ini suku bunga pinjaman investasi untuk leasing pesawat sebesar 12 hingga 13 persen. Biasanya ditambah dengan tata cara dan ketentuan admnistrasi yang sulit dan mengikat.

Hal tersebut, lanjutnya, akan membuat industri penerbangan semakin tertekan. Padahal, suku bunga kredit leasing pesawat di negara lain jauh lebih murah.

Selain itu, Denon menuturkan ketentuan leasing pesawat juga memerlukan nilai jaminan antara 120 hingga 150 persen. Akibatnya, pihak pemilik pesawat menyertakan aset lainnya sebagai jaminan.

"Hal ini agar bisa menjadi perhatian dan bisa mendapatkan support dari pemerintah agar industri penerbangan nasional bisa memiliki daya saing dengan maskapai asing," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

inaca
Editor : Rio Sandy Pradana
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top