Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekonomi China Pulih, Ekspor Indonesia Belum Bisa Tancap Gas

Indonesia dinilai membutuhkan waktu untuk kembali mengisi ceruk pasar China, usai mulai pulihnya industri di negara tersebut pascawabah corona.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 10 Maret 2020  |  19:16 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Pemulihan kinerja ekonomi China usai sempat terhenti akibat wabah virus corona bisa menjadi momentum bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor ke negara tersebut. Kendati demikian, pemulihan ini tak serta-merta bakal memacu aktivitas perdagangan dengan Negari Panda.

Adapun, laporan Bloomberg memperlihatkan bahwa perekonomian China mulai kembali bekerja dengan kapasitas 70 sampai 80 persen pada pekan lalu.

Dalam hal ini, permintaan batubara untuk kebutuhan listrik industri diyakini mencapai level tertinggi sejak 21 Januari silam meski masih 20 persen lebih rendah dibandingkan permintaan pada 2019 dan 2018.

Sekitar 78 juta pekerja migran pun dilaporkan telah kembali bekerja. Jumlah ini setara dengan 60 persen dari total pekerja yang melakukan perjalanan ke provinsi asalnya untuk merayakan Tahun Baru Imlek.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani mengatakan pemulihan China cenderung terjadi secara lamban dan tak secepat yang diperkirakan. Hal ini menjadi indikasi bahwa peningkatan permintaan untuk barang-barang impor dari luar China akan berlangsung secara bertahap.

"Tidak ada yang bisa menyerobot atau 'curi start' ekspor karena peningkatan permintaan China terhadap produk impor akan sangat tergantung pada industri mana yang sudah bisa atau diizinkan beroperasi lebih dulu," ujar Shinta ketika dihubungi Bisnis, Selasa (10/3/2020).

Dia pun mengemukakan bahwa spektrum pasar China yang bisa dimanfaatkan untuk menggenjot ekspor Indonesia masih sempit.

Produk ekspor Indonesia yang menjadi bagian dari input produksi China pun hanya mencakup sejumlah barang mentah seperti batubara, minyak sawit, besi dan baja, serta barang tambang logam mentah sehingga ekspor ke Negeri Panda akan sangat bergantung pada kegiatan industri yang membutuhkan bahan-bahan baku ini.

"Kalau industri-industri China pengguna komponen ekspor Indonesia masih belum beroperasi, kita juga tidak bisa ekspor lebih banyak atau 'curi start' ekspor ke China," tambah Shinta.

Hal senada pun diungkapkan Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno yang menyebutkan pemulihan perekonomian China bakal menjadi sinyal yang baik bagi ekspor Indonesia.

Menurutnya, ekspor ke China sempat terkoreksi sampai 15 persen di tengah terbatasnya kegiatan produksi saat wabah virus corona melanda.

Dia menyebutkan terdapat sejumlah komoditas yang bisa digenjot ekspornya dalam proses pemulihan ini. Produk tersebut mencakup minyak sawit mentah (CPO), batubara, mineral, dan juga kertas.

Ketua Komite Tetap Bidang Ekspor Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Handito Joewono menilai Indonesia perlu segera mempersiapkan diri dalam menggenjot ekspor ke China.

Perekonomian yang pulih disebutnya memberi sinyal adanya perbaikan konsumsi di negara tersebut.

"Kita memang seharusnya sudah mempersiapkan diri. Jika kondisinya seperti ini artinya ekonomi mulai tumbuh lagi, China kan memang pasar. Jadi kita harus segera mengejar eskpor. Saya lihat teman-teman usaha juga masih menyediakan produk untuk pemenuhan ekspor," kata Handito.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor china Virus Corona
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top