Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Daftar Obat Herbal Terstandar Bakal Bertambah

BPOM mencatat Indonesia memiliki sekitar 30.000 spesies tumbuhan maupun sumber daya laut dan sekitar 9.600 spesies tanaman dan hewan telah teridentifikasi memiliki khasiat obat. Namun, baru ada 62 OHT dan 24 fitofarmaka yang terdaftar.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 04 Maret 2020  |  17:49 WIB
Pedagang menata jahe merah yang dijual di Pasar Rumput, Jakarta, Rabu n(4/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pedagang menata jahe merah yang dijual di Pasar Rumput, Jakarta, Rabu n(4/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memastikan akan ada 19 pengembangan obat herbal terstandar atau OHT dan fitofarmaka setelah masa penelitian rampung pada 2019 lalu.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Kusumastuti Lukito mengatakan 19 pengembangan OHT dan fitofarmaka tersebut merupakan hasil satuan tugas (satgas) percepatan yang anggotanya bersumber dari tim Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dan dibiayai oleh pemerintah melalui Kementerian Riset dan Teknologi.

"Satgas percepatan sudah ada dan berjalan, tahun ini akan ada 19 izin baru untuk obat herbal dan fitofarmaka," katanya, Rabu (4/3/2020).

Sementara itu, BPOM mencatat Indonesia memiliki sekitar 30.000 spesies tumbuhan maupun sumber daya laut dan sekitar 9.600 spesies tanaman dan hewan telah teridentifikasi memiliki khasiat obat. Namun, baru ada 62 OHT dan 24 fitofarmaka yang terdaftar.

Adapun salah satu pelaku industri obat herbal, PT Indofarma Tbk. akan menggenjot utilisasi pabrik herbal hingga 100 persen pada tahun ini. Saat ini pabrik yang sudah berdiri sejak periode 2002-2003 baru tercatat 30 persen utilisasinya.

Direktur Keuangan PT Indofarma Tbk. Herry Triyatno mengatakan dengan target tersebut pendapatan obat tradisional perseroan menargetkan sebesar Rp20 miliar naik dari 2019 Rp9 miliar. Perseroan pun akan mengoptimalkan fasilitas yang selama ini hanya untuk produk over the counter atau OTC diperluas menjadi produk ekstrak serta F&B.

"Jika saat ini kami hanya bermain di Bisnis to Customer sekarang kami akan merambah ke Bisnis to Bisnis dengan jangka pendek masih mengoptimalkan internal holding dulu seperti dengan Kimia Farma," katanya.

Direktur Utama PT Indofarma Tbk. Arief Pramuhanto sebelumnya juga mengatakan usai holding BUMN Farmasi terbentuk, perseroan mendapat fokus produksi pada alat kesehatan dan obat herbal. Alhasil, akan ada sejumlah langkah startegis yang dilakukan tahun ini guna memaksimalkan penuh utilisasi yang masih rendah.

"Ada sejumlah hal yang akan kami datangkan untuk produksi herbal ini salah satunya menggandeng asosiasi perusahaan jamu. Harapannya semester II/2020 sudah mulai berjalan karena kami melihat pasarnya masih luas dan selama ini belum optimal dan fokus saja," katanya.

Arief mengemukakan setelah berdiskusi dengan BPOM perseroan juga kian mematangkan rencana meningkatkan kualitas obat tradional. Saat ini ada tiga jenis obat tradisional yakni jamu, herbal berstandar, dan fitofarmaka.

Sementara itu, obat tradisional yang beredar kebanyakan masih pada jenis jamu. Alhasil, untuk herbal bersatandar dan fitofarmaka memiliki banyak peluang yang besar.

"Dengan lebih banyak mengolah natural ekstrak yang bahannya berasal dari hasil pertanian tentu juga akan semakin mengurangi impor bahan baku obat. Obat tradisional itu seperti pengobatan China yang pasti memiliki pangsa pasar," ujarnya.

Adapun, obat herbal yang banyak dikembangkan Indofarma sejauh ini adalah berbagi macam multivitamin seperti Biovision. 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bpom fitofarmaka
Editor : David Eka Issetiabudi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top