Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Presiden Jokowi Ingin BUMN Punya Bisnis Data Center

Presiden Joko Widodo mendorong perusahaan pelat merah memiliki lini bisnis data center atau pusat data. Hal ini seiring dengan kebutuhan pasar dalam negeri.
Muhammad Khadafi
Muhammad Khadafi - Bisnis.com 28 Februari 2020  |  14:26 WIB
Presiden Joko Widodo saat menyampaikan pidato dalam acara Digital Economy Summit 2020, di Jakarta, Kamis (27/2/2020). - Bisnis/Muhammad Khadafi
Presiden Joko Widodo saat menyampaikan pidato dalam acara Digital Economy Summit 2020, di Jakarta, Kamis (27/2/2020). - Bisnis/Muhammad Khadafi

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Joko Widodo mendorong perusahaan pelat merah memiliki lini bisnis data center atau pusat data. Hal ini seiring dengan kebutuhan pasar dalam negeri.

"Kami juga ingin mulai mendorong pemain nasional dalam pengembangan data center mulai dari BUMN, telekomunikasi, sampai swasta," kata Jokowi saat membuka rapat terbatas tentang Pengembangan Pusat Data Nasional di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (28/2/2020).

Jokowi menilai kebutuhan pengembangan data center di Indonesia memasuki tahap urgen. Pasalnya banyak perusahaan rintisan atau startup memakai data center yang berada di luar negeri. Padahal menggunakan pusat data yang berlokasi di dalam negeri jauh lebih menguntungkan.

Kesempatan ini justru telah dilihat oleh perusahaan teknologi raksasa asing, seperti Microsoft, Google, Alibaba, dan Amazon. Presiden mencatat ketertarikan perusahaan-perusahaan tersebut untuk mendirikan data center di Indonesia.

"Karena [mereka] melihat negara kita memiliki daya tarik, memiliki potensi besar dan kita punya ekosistem startup paling aktif di Asia Tenggara dengan market digital terbesar, karena itu saya selalu menekankan kita jangan hanya jadi penonton," tegas Jokowi.

Terkait itu semua, Jokowi meminta jajarannya untuk menyiapkan regulasi soal aturan main hingga investasi. Dia menekankan bahwa pembangunan data center milik perusahaan asing maupun lokal harus memberikan nilai tambah.

"Baik dalam pelatihan digital talent, pengembangan pusat research, kerja sama dengan pemain-pemain nasional maupun sharing pengetahuan dan teknologi," katanya.

Adapun dalam catatan Presiden, nilai ekonomi digital di Indonesia pada 2015 mencapai US$8 miliar atau sekitar Rp120 triliun. Angka tersebut tumbuh lebih dari 4 kali lipat pada tahun lalu menjadi US$40 miliar atau Rp560 triliun. Pada 2025, Presiden memprediksi nilai ekonomi digital di Indonesia akan tumbuh jauh lebih besar atau menjadi US$133 miliar.

Selain itu Indonesia sat ini tercatat dalam daftar 5 besar negara dengan perusahaan rintisan teraktif setelah Amerika Serikat, India, Inggris, dan Kanada. Hal itu dicapai dengan jumlah perusahaan rintisan sebanyak 2.193.

Namun itu semua belum cukup bagi Jokowi yang menilai Indonesia memiliki potensi jauh lebih besar.

Perusahaan rintisan di Indonesia dapat berkembang dengan bermodal jumlah penduduk sebanyak 267 juta jiwa. Pun penetrasi pasar internet setiap tahun masih terus tumbuh.

Tahun lalu, kata Jokowi,  pasar internet naik dari 55 persen menjadi 65 persen. Pada 2018 pengguna internet di Indonesia telah mencapai 171 juta atau bertambah 100 juta dalam 10 tahun terakhir.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jokowi data center
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top