Virus Corona Bikin Industri Garmen Krisis Bahan Baku

Ketergantungan bahan baku dan suku cadang mesin industri garmen nasional cukup besar. Di sisi lain, terdapat peluang produk dalam negeri untuk mengisi kebutuhan pasar.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 07 Februari 2020  |  06:00 WIB
Virus Corona Bikin Industri Garmen Krisis Bahan Baku
Pekerja meyelesaikan pembuatan pakaian di pabrik garmen PT Citra Abadi Sejati, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (8/9/2018). - JIBI/Nurul Hidayat
Bisnis.com, JAKARTA - Penyebaran virus corona dinilai sudah berdampak pada industri tekstil dan produk tekstil (TPT) saat ini. Pasalnya, pasokan bahan baku dan suku cadang mesin industri garmen dari China saat ini sudah terhenti. 
 
Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyatakan pasokan bahan baku dan suku cadang mesin dari China paling cepat akan masuk pada minggu keempat Februari. Adapun, asosiasi menghitung bahan baku maupun suku cadang dari negara lain jauh lebih mahal dari produk asal Negeri Tirai Bambu tersebut.
 
"Ini menunjukkan sebegitu besarnya ketergantungan kami terhadap China. Hikmahnya bisa menyadarkan kami bahwa ketergantungan itu harus bergeser  dan jadi peluang untuk bisa diisi oleh [bahan baku] dalam negeri," kata Sekretaris Jenderal API Jawa Barat Rizal Rakhman kepada Bisnis, Kamis (6/2/2020). 
 
Rizal menambahkan pihaknya telah menemukan sumber bahan baku dan suku cadang dari negara lain seperti Korea Selatan dan India. Namun demikian, lanjutnya, harga dari kedua negara tersebut lebih tinggi 30--40 persen dari China. 
 
Walau pabrikan lokal dapat mengisi seluruh permintaan, ujarnya, harga bahan baku lokal masih lebih tinggi sekitar 30 persen dari bahan baku China. Oleh karena itu, Rizal menilai penurunan tarif gas pada awal kuartal II/2020 dapat menurunkan harga bahan baku lokal secara signifikan. 
 
Adapun, Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen (APSyFI) menilai merebaknya wabah virus korona di distrik Wuhan, China bisa menjadi peluang pabrikan TPT nasional. Pasalnya, Wuhan merupakan salah satu distrik manufaktur China. Dengan kata lain, pasokan produk TPT dari China akan melambat. 
 
"Dalam 30 tahun terakhir, baru kali ini Toyota shutdown produksinya di sana. Karena supply [produk TPT] mereka berhenti, kemungkinan akan ada peluang negara non-China grab mereka punya pasar lagi," papar Anggota Eksekutif APSyFI Prama Yudha Amdan kepada Bisnis belum lama ini. 
 
Selain itu, lanjutnya, merebaknya wabah virus korona tersebut bertepatan dengan bulan perayaan Hari Raya Imlek. Seperti diketahui, China mengurangi kapasitas produksinya selama satu bulan saat Hari Raya Imlek. 
 
Oleh karena itu, Prama meramalkan industri TPT nasional akan mendapatkan berkah Ramadhan mengingat pasokan bahan baku di pasar akan tergantikan dengan bahan baku lokal pada awal kuartal II/2020. 
 
Di sisi lain, Prama menilai fokus regulasi pemerintah saat ini sudah didesain mendukung industrialisasi. Menurutnya, kondisi industri TPT nasional akan membaik selama pemerintah konsisten dalam mengimplementasikan regulasi tersebut. 
 
"Kalau cukai main atau importir main, itu beda cerita. Namun, kalau kami lihat ini sudah membaik," ucapnya. 
 
Terpisah, Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen  (APSyFI) Redma Wirawasta mengatakan masuknya PLN dalam beleid penurunan tarif gas akan berdampak signifikan bagi seluruh industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Adapun, ujar Redma, pemberian  diskon akan memberikan dampak signifikan pada pabrikan hulu dan antara TPT. 
 
"Energi itu 23--24 persen [dari total biaya produksi]. Dari 23 persen itu, gas sekitar 75 persen, selebihnya listrik," katanya kepada Bisnis
 
Redma menyampaikan pabrikan hulu TPT membutuhkan gas dalam proses polimerisasi. Oleh karena itu, Redma menegaskan bahwa tarif gas bagi industri harus segera direalisasikan. "Ini [tarif gas] harus turun, jangan sampai tidak turun," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri garmen, virus corona

Editor : Annisa Sulistyo Rini
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top