Peternak Desak Impor 200.000 Ton Jagung Segera Direalisasikan

Harga telur di tingkat peternak (on farm) telah menyentuh Rp20.000Rp21.000 di Pulau Jawa, angka ini merupakan batas atas harga telur sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 96 Tahun 2018.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 06 Februari 2020  |  11:33 WIB
Peternak Desak Impor 200.000 Ton Jagung Segera Direalisasikan
Pekerja mengemas jagung impor yang akan didistribusikan ke peternak di Gudang Bulog, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (24/1/2019). - ANTARA/Zabur Karuru

Bisnis.com, JAKARTA - Peternak ayam petelur (layer) mendesak pemerintah untuk segera merealisasikan importasi jagung pipil kering seiring makin meningkatnya harga dan minimnya pasokan komoditas tersebut.

Ketua Umum Asosiasi Peternak Layer Nasional Musbar Mesdi menyatakan bahwa harga jagung telah melampaui Rp5.000 per kilogramnya. Hal ini tercermin dari harga telur di tingkat peternak (on farm) yang telah menyentuh Rp20.000 – Rp21.000 di Pulau Jawa, angka ini merupakan batas atas harga telur sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 96 Tahun 2018.

"Sudah lebih dari sebulan pemerintah melakukan rapat koordinasi antar tiga kementerian, kami usulkan impor 200.000 ton jagung tapi tak kunjung direalisasikan," kata Musbar kepada Bisnis.com, Kamis (6/2/2020).

Di sisi lain, Musbar pun menilai pemerintah telah terlambat mengambil tindakan. Sekalipun importasi dengan jumlah yang diusulkan direalisasi dalam waktu dekat, Musbar mengatakan kedatangannya akan bertepatan dengan masa panen jagung di dalam negeri.

"Kami sudah usulkan sejak akhir tahun lalu untuk stabilitas harga selama Januari dan Februari karena pasokan jagung mulai berkurang, sementara itu panen diperkirakan mundur sekitar Maret dan April," imbuhnya.

Ditemui di Kompleks Parlemen pada Rabu (5/2/2020), Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengemukakan bahwa importasi jagung untuk pakan ternak masih menunggu data riil yang menunjukkan angka kebutuhan di lapangan.

Dia menyatakan pihak Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian telah menerima usulan volume pemasukan 200.000 ton dari kalangan peternak, namun penghitungan yang tepat disebutnya tengah dilakukan untuk memastikan pemasukan jagung tak mengganggu harga jagung di petani jelang masa panen.

"Memang ada usulan impor 200.000 ton, tapi kita tidak bisa langsung [impor] demikian. Harus ada data kebutuhan sebenarnya berapa sehingga kita impor sesuai keperluan dalam negeri. Kalau kelebihan akan berdampak buruk ke petani jagung," kata Budi.

Budi menyatakan volume impor jagung akan diputuskan dalam rapat koordinasi terbatas selanjutnya. Yakni ketika data potensi produksi dalam negeri dan kebutuhan telah diperoleh. Adapun menurut data Badan Ketahanan Pangan (BKP), potensi ketersediaan jagung pipil kering dengan kadar air 15 persen selama periode Januari—Maret 2020 berada di angka 8,06 juta ton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
peternak ayam

Editor : David Eka Issetiabudi
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top