Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Produksi Tumbuh Rendah, Perlambatan Manufaktur Makin Kentara

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi Industri Besar dan Sedang (IBS) hanya tumbuh 4,01 persen pada 2019.
Muhamad Wildan
Muhamad Wildan - Bisnis.com 04 Februari 2020  |  12:51 WIB
Aktivitas karyawan di pabrik karoseri truk di kawasan industri Bukit Indah City, Purwakarta, Jawa Barat, Kamis (13/2/2018). - Bisnis.com/Nurul Hidayat
Aktivitas karyawan di pabrik karoseri truk di kawasan industri Bukit Indah City, Purwakarta, Jawa Barat, Kamis (13/2/2018). - Bisnis.com/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Perlambatan sektor manufaktur di Indonesia makin kentara setelah Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan laju pertumbuhan produksi Industri Besar dan Sedang (IBS) tumbuh melambat.

Sepanjang 2019, seperti dikutip Bisnis, Selasa (4/2/2020), pertumbuhan produksi IBS hanya sebesar 4,01 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan 2018 dan 2017, ketika produksi IBS mampu tumbuh masing-masing sebesar 4,07 persen dan 4,74 persen.

Dari 23 jenis industri yang tercatat, 11 di antaranya tercatat mengalami kontraksi pertumbuhan produksi.

Industri barang logam bukan mesin tercatat mengalami kontraksi produksi hingga 18,49 persen sepanjang 2019, disusul oleh industri karet, barang dari karet dan plastik yang tercatat kontraksi hingga 14,71 persen.

Meski demikian, dua sektor industri dengan share terbesar atas total produksi yakni industri makanan serta industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia tercatat masih mampu tumbuh, masing-masing sebesar 3,74 persen dan 6,02 persen. Keduanya berkontribusi sebesar 34,11 persen terhadap total produksi IBS.

Tekanan terhadap sektor manufaktur pada tahun lalu, juga ditunjukkan oleh angka Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang tercatat konsisten berada pada level kontraksi di bawah angka 50 sepanjang semester II/2019.

Secara rata-rata, PMI Manufaktur Indonesia sepanjang semester II/2019 tercatat ambles di angka 48,85 dan masih melanjutkan tren kontraksi pada Januari 2020, dengan skor PMI Manufaktur sebesar 49,3.

Seiring dengan terus menurunnya produksi IBS dari tahun ke tahun, kontribusi manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan pertumbuhan sektor manufaktur dari tahun ke tahun juga cenderung menurun.

BPS mencatat pada 2017, sektor manufaktur masih berkontribusi sebesar 20,16 persen terhadap PDB. Pada 2018, kontribusinya menyusut ke angka 19,86 persen.

Untuk 2019, secara rata-rata tercatat kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB hingga kuartal III/2019, hanya sebesar 19,9 persen. Meski ada kenaikan, tapi sangat tipis.

Pertumbuhan sektor manufaktur juga tercatat terus melambat. Pada 2017, pertumbuhan sektor manufaktur sebesar 4,29 persen dan melambat tipis pada tahun berikutnya, dengan pertumbuhan sebesar 4,27 persen.

Kemudian, pada Januari-September 2019, pertumbuhan sektor manufaktur kembali menciut, dengan hanya mencapai 3,85 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur pdb
Editor : Annisa Margrit
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top