Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Inflasi Januari 2020 Tercatat 0,39 Persen, Apa Saja Penyebabnya?

Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan inflasi Januari 2020 terjadi karena adanya kenaikan harga di berbagai indeks kelompok pengeluaran.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 03 Februari 2020  |  12:29 WIB
Komoditas cabai. - Reuters
Komoditas cabai. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik telah mengumumkan inflasi tahun kalender Januari 2020 di level 0,39 persen dan inflasi tahunan sebesar 2,68 persen. Lantas, apa saja perinciannya?

Dalam konferensi pers di kantor Badan Pusat Statistik (BPS), Jakarta, Senin (3/2/2020), Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga di sebagian besar indeks kelompok pengeluaran, terutama komoditas bahan makanan, minuman, dan tembakau.

"Sumbangan inflasi dari kelompok ini mencapai 1,62 persen. Komoditas yang memberi kontribusi terbesar terhadap Indeks Harga Konsumen (IHK) antara lain cabai merah, cabai rawit, ikan segar, minyak goreng, beras, dan rokok," paparnya.

Adapun kelompok pakaian dan alas kaki menunjukkan kenaikan 0,12 persen, sedangkan kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,13 persen.

Selanjutnya, kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,09 persen; kelompok kesehatan 0,42 persen; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,04 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya 0,18 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,19 persen; serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,46 persen.

Adapun kelompok yang mengalami deflasi yakni kelompok transportasi sebesar 0,89 persen dan kelompok pendidikan 0,14 persen.

Kemudian, dari 11 kelompok pengeluaran, sebanyak 6 kelompok memberikan kontribusi terhadap inflasi, 2 kelompok memberikan sumbangan deflasi, dan 3 kelompok tidak memberikan andil terhadap inflasi.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberi andil 0,41 persen terhadap inflasi; kelompok pakaian dan alas kaki 0,01 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar rumah tangga 0,03 persen; kelompok kesehatan 0,01 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,02 persen; kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,03 persen.

Kelompok pengeluaran yang memberi sumbangan terhadap deflasi yakni kelompok transportasi sebesar 0,11 persen dan kelompok pendidikan 0,01 persen. Adapun pengeluaran yang tidak memberikan andil adalah kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan; serta kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya.

Mulai Januari 2020, BPS menggunakan pemutakhiran tahun dasar. Jika hingga Desember 2019, penghitungan inflasi, Nilai Tukar Petani, dan indeks harga perdagangan besar menggunakan tahun dasar 2012, maka sejak bulan lalu, tahun dasarnya berubah menjadi 2018.

Selain itu, ada beberapa pemutakhiran lain seperti bertambahnya kelompok pengeluaran dari 7 kelompok menjadi 11 kelompok. Kemudian, BPS membuang 101 komoditas yang tidak lagi berlangsung sekarang dan memasukkan 98 komoditas baru.

Jumlah kota yang masuk dalam survei juga bertambah dari 82 kota menjadi 90 kota.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi bps
Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top