Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Utilitas Pabrik Baja Lapis Lokal Membaik

Pelaku bisnis baja lapis menyatakan utilitas pabrikan baja lapis (BJLas) sudah berada di atas 40% menjelang akhir Januari atau telah lebih baik dari realisasi 2019.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 29 Januari 2020  |  10:53 WIB
Pekerja memeriksa kualitas lempengan baja panas di pabrik pembuatan hot rolled coil (HRC) PT Krakatau Steel (Persero) Tbk di Cilegon, Banten, Kamis (7/2/2019). - ANTARA/Asep Fathulrahman
Pekerja memeriksa kualitas lempengan baja panas di pabrik pembuatan hot rolled coil (HRC) PT Krakatau Steel (Persero) Tbk di Cilegon, Banten, Kamis (7/2/2019). - ANTARA/Asep Fathulrahman

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia Zinc Aluminium Steel Industry (IZASI) menyatakan utilitas pabrikan baja lapis (BJLas) sudah berada di atas 40% menjelang akhir Januari atau telah lebih baik dari realisasi 2019.

Direktur Eksekutif IZASI Maharani Putri mengatakan pasar BJLas domestik sempat digempur oleh baja impor yang didominasi oleh China dan Vietnam sebesar 70% pada 2018. Menurutnya, hal tersebut berkontribusi terhadap naiknya peringkat produk baja di barang yang diimpor terbanyak tahun itu. 

"Pada 2019 turun dari nomor dua kontribusi [volume impor terbesar] jadi nomor tiga. Utilitas sedikit membaik, tapi itu karena usaha kami efisiensi dengan macam-macam. Pengurangan pegawai definetly," katanya kepada Bisnis, Selasa (28/1/2020). 

Pihaknya mencatat volume impor BJLas dari Vietnam telah mendominasi pasar domestik sejak 2015. Adapun, kontribusi terbesar BJLas Vietnam terhadap volume impor adalah sebesar 67% pada lima tahun lalu. 

Namun demikian, volume impor BJLas China perlahan mulai membesar. Adapun,peningkatan terbesar terjadi pada 2018 yakni dari 21% menjadi 34%. 

Volume impor dari kedua negara tersebut menggerus pangsa BJLas impor Singapura di dalam negeri. IZASI memproyeksikan kontribusi BJLas Singapura menyusut menjadi 10% pada 2019 dibandingkan dengan realisasi pada tahun sebelumnya sekitar 12%. 

Sementara itu, PT Krakatau Steel Tbk. meramalkan voluem impor BJLas tidak akan berubah banyak dari posisi 1,5 juta ton, seperti pada 2018. 

Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk. Silmy Karim mengatakan volume impor baja canai dingin (CRC) dan BJLas tetap akan berkisar 1,5 juta ton. Padahal, BJLas merupakan CRC yang telah dilapisi alumunium-seng.

"Makanya, mati [pabrikan baja nasional kalau ini terus terjadi. Regulasinya harus diperbaiki. Intinya di kebijakan," ujarnya.

Silmy menilai industri baja dalam negeri membutuhkan peran pemerintah untuk menghadirkan lapangan bermain antara produk lokal dan produk impor. Pihaknya mengklaim produk baja hulu yang mayoritas diproduksi oleh Krakatau Steel telah cukup efisien. 

"Salah satu anak perusahaan kami, namanya PT Krakatau Posco, itu perusahaan baja paling efisien di dunia. Kenapa  impor masih tinggi? Karena masih ada pelaku-pelaku yang melakukan penghindaran atas bea masuk dan tax rebate," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri baja baja
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top