PLN Masih Hitung Potensi Penghematan Konversi dari Listrik ke Gas

PT PLN (Persero) mengaku masih perlu melakukan perhitungan penghematan yang didapat dari konversi pembangkit listrik ke gas.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 18 Januari 2020  |  08:56 WIB
PLN Masih Hitung Potensi Penghematan Konversi dari Listrik ke Gas
Pelanggan memeriksa jaringan listrik PLN di salah satu Rusun di Jakarta, Selasa (11/6/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA -- PT PLN (Persero) mengaku masih perlu melakukan perhitungan penghematan yang didapat dari konversi pembangkit listrik ke gas.

Wakil Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan gas yang digunakan sebagai bahan bakar pembangkit memiliki harga yang lebih murah dibandingkan solar. Setidaknya, PLN membeli solar dengan harga US$20 juta british termal unit (MMbtu) sedangkan gas mampu dibeli sekitar U$12 hingga US$14 MMbtu.

Dalam upaya melakukan konversi pembangkit listrik ke gas, PLN akan melakukan kerja sama dengan Pertamina sesuai dengan penugasan yang tertuang dalam Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM.

PLN pun sudah memetakan sumber pasokan LNG yang dapat berasal dari Kilang Tangguh, Bontang, maupun Kilang Masela yang baru mulai berproduksi sekitar 2026 atau 2027.

"Artinya, ini mengubah energi berbasis impor, sedang kita laksanakan, ditambah lagi cost saving, PLN jalankan ini tidak sendirian, tetapi seluruh komponen," katanya, Jumat (17/1/2020).

Adapun PLN telah melakukan kontrak take or pay dengan Kilang Tangguh untuk memasok 40 kargo gas alam cair (liquid natural gas/LNG) pada tahun ini dan 16 kargo LNG pada tahun depan. Sementara itu, kebutuhan LNG PLN pada tahun ini sesuai dengan rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) 2020 adalah sebanyak 56 kargo.

Pada tahun lalu, realisasi kebutuhan gas PLN mencapai 57 kargo atau lebih tinggi dari RKAP yang sebesar 53 kargo. Semua kebutuhan gas tersebut dipasok dari Kilang Bontang tanpa menggunakan mekanisme take or pay.

Menurutnya, perlu pembangunan infrastruktur LNG yang masif dari Kilang Tangguh, Kilang Bontang, maupun Kilang Masela dengan skema hub and spoke, yakni kapal bergerak dengan memasok gas ke hub yang lebih besar terlebih dahulu. Pengembangan infrastruktur LNG yang masih akan semakin menekan biaya yang dikeluarkan PLN sehingga efisiensi dapat terjadi.

"Seperti apa suatu infrastruktur masif tentu saja kita sesuai perintah dari kepmen, Skala ekonomi tetap penting," sebutnya.

Berdasarkan data yang sempat diterima bisnis, PLN berencana menurunkan konsumsi solar pada 2020 lewat gasifikasi pembangkitan dan biodiesel. Sebelumnya, pada 2019 konsumsi solar PLN mencapai 4,2% dari total jenis energi pembangkitan. Konsumsi solar pada 2020 ditargetkan sebesar 3,8%.

Pembangkit listrik PLN yang sudah menggunakan gas sampai dengan saat ini tersebar di daerah Sumatera Bagian Utara, Sumatera Bagian Selatan Tenggara, Jawa, Bali, Kalimantan Bagian Timur dan Utara, dan Sengkang di Sulawesi Selatan dengan kapasitas pembangkit sebesar 12.695 MW. Penyaluran gas dilakukan melalui gas pipa, regasifikasi LNG, maupun dengan CNG.

Saat ini masih ada pembangkit yang dioperasikan dengan HSD dan tidak layak digasifikasi. Pembangkit tersebut terutama berada di daerah terluar. terdepan, dan tertinggal (3T). Nantinya, pembangkit di 3T yang masih menggunakan HSD akan didorong untuk beroperasi menggnakan Biodiesel atau hybrid dengan EBT.

Darmawan menambahkan, PLN juga akan melakukan identifikasi lanjutan terhadap pembangkit berskala kecil yang masih mengonsumsi solar. Konversi ke gas tidak memungkinkan dilakukan pada pembangkit dengan skala kecil tersebut karena berkaitan dengan investasi infrasruktur yang akan lebih tinggi.

PLN cenderung akan menyesuaikan konversi pembangkit yang masih mengonsumsi solar dengan kearifan lokal setempat seperti potensi energi baru terbarukan.

"Itu yang skala kecil-kecil di pembangkit tua berskala kecil, yang memang ini interm solution, kalau dibangun infrastruktur gas jangka panjang apakah layak," katanya.

PLN saat ini telah menetapkan 10 klaster LNG untuk konversi 52 pembangkit listrik ke gas. Adapun pembagiannya yakni klaster Sumatera bagian utara, Kepulauan Riau, Jawa bagian barat, Jawa bagian timur, Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Papua bagian utara, Maluku bagian utara, serta Maluku bagian selatan-Papua.

Berdasarkan Rencana USaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2019 - 2028, proyeksi kebutuhan LNG cenderung mengalami peningkatan setiap tahun. Pada 2020, proyeksi kebutuhan LNG sebesar 221 triliun british thermal unit (TBTU). Kebutuhan LNG diproyeksi akan menurun pada 2021 menjadi 215 TBTU. Namun, setelahnya proyeksi kebutuhan terus meningkat yakni 2022 229 TBTU, 2023 264 TBTU, 2024 275 TBTU, 2025 316 TBTU, 2026 354 TBTU, 2027 389 TBTU, dan 2028 417 TBTU.

Kebutuhan solar diproyeksi terus menurun, dari 1,8 juta kiloliter (KL) pada 2020 menjadi 1 juta KL di 2021, 403.000 KL di 2022, 408.000 KL pada 2023, dan terendah pada 2024 sebesar 330.000 KL. Namun, setelahnya proyeksi kebutuhan solar justru meningkat menjadi 369.000 KL pada 2025. Proyeksi kebutuhan tertinggi terjadi pada 2028 sebesar 446.000 KL

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
PLN

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top