Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kehadiran Pusat Kebugaran Berpotensi Dorong Kinerja Properti Ritel

Kinerja pasar properti ritel Indonesia diperkirakan akan mengalami penurunan tahun ini lantaran banyaknya tambahan pasokan yang masuk sehingga membuat rata-rata tingkat okupansi menurun.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 17 Januari 2020  |  18:25 WIB
Pusat kebugaran - Istimewa
Pusat kebugaran - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja pasar properti ritel Indonesia diperkirakan akan mengalami penurunan tahun ini lantaran banyaknya tambahan pasokan yang masuk sehingga membuat rata-rata tingkat okupansi menurun.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan oleh pengembang agar keterisian properti ritelnya terjaga adalah dengan bekerja bersama tenant yang bisa menunjang gaya hidup konsumen masa kini menuju lebih sehat, misalnya.

Senior Research Analyst Retail JLL Keisha Virtue mengatakan bahwa keberadaan pusat kebugaran di pusat perbelanjaan membuat pusat belanja bisa berdiri lebih kokoh dibandingkan dengan bekerja sama dengan tenant produk sehari-hari yang umumnya sudah bisa dicari secara daring (online).

“Gaya hidup menjadi lebih sehat sekarang lagi menjadi tren dan di beberapa negara bahkan menjadi prioritas sehingga kebutuhan akan pusat kebugaran pasti meningkat,” ungkapnya, dikutip melalui laporan tertulis, Jumat (17/1/2020).

Adapun dengan banyaknya ruang properti ritel yang tersedia, para penyedia jasa pusat kebugaran tak sedikit yang berminat untuk membuka cabangnya di mal-mal. Hal ini menjadi salah satu peluang yang perlu dipertimbangkan pemilik pusat belanja untuk mendorong kunjungan konsumen.

“Memang kuncinya adalah diversifikasi produk yang ditawarkan. Jadi, seluruh pemilik properti ritel harus lebih fokus untuk memperhatikan campuran pengisi properti ritelnya dengan tenant yang kuat dan mau terus menumbuhkan portofolionya,” sambung Virtue.

Pusat kebugaran juga menjadi pilihan yang menjanjikan selain tenant makanan dan minuman lantaran kunjungan ke pusat kebugaran umumnya dilakukan secara rutin.

“Orang pasti setidaknya datang sekali sepekan, diakhiri pula dengan jalan-jalan sebentar setelah berolahraga, makan, ngopi, bahkan belanja. Pusat kebugaran sangat baik untuk mendorong kunjungan dan mengisi ruang ritel yang kosong karena kebutuhan akan tempatnya yang luas,” imbuh Virtue.

Selain menarik kerja sama dengan pusat kebugaran, pemilik properti ritel bisa mempertimbangkan untuk bekerja bersama tenant makanan dan minuman sehat seperti kedai jus, atau restoran vegan, misalnya. Langkah tersebut bisa melipatgandakan keuntungan dan kunjungan bagi pemilik properti ritel.

Kemudian, selain pusat kebugaran secara umum, banyak pula pusat belanja yang menargetkan untuk bekerja sama dengan kelas-kelas khusus seperti kelas tinju, olahraga intensitas tinggi (HIIT), atau kelas-kelas olahraga privat.

“Konsep yang mengedepankan kesehatan dan kebugaran ini sedang jadi tren terutama di kalangan milenial dan generasi Z,” lanjut Virtue.

Ke depan, pusat kebugaran khusus diperkirakan akan terus melakukan ekspansi di seluruh dunia, baik di kota maupun di pinggir kota. Kehadirannya di pusat belanja juga banyak dinantikan oleh konsumen.

“Kami melihat akan ada ekspansi lebih lanjut pada tren ini, setidaknya untuk beberapa tahun mendatang sepanjang keinginan manusia untuk bisa hidup sehat terus menjadi tren juga. Saya rasa belum akan ada perubahan atau penurunan dalam waktu dekat, ini bisa dimanfaatkan,” kata Virtue.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

properti
Editor : Lucky Leonard
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top