Indonesia Nikmati Keuntungan dari Perang Dagang

Ekonom Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro menyatakan kondisi surplus pada neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2019 dengan sejumlah negara tak bisa dipungkiri adalah berkah dari perang dagang yang berlangsung antara AS dan China.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 16 Januari 2020  |  18:23 WIB
Indonesia Nikmati Keuntungan dari Perang Dagang
Perang dagang AS-China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Perang dagang antara AS dan China ternyata telah memberi banyak efek positif pada neraca dagang Indonesia 2019.

Ekonom Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro menyatakan kondisi surplus pada neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2019 dengan sejumlah negara tak bisa dipungkiri adalah berkah dari perang dagang yang berlangsung antara AS dan China. Satria mengatakan, ketegangan antara AS dan China sepanjang 2019 mendorong surplus pada perdagangan.

Secara teperinci, surplus perdagangan 2019 terlihat dengan surplus di AS sebesar US$9,6 miliar setelah sebelumnya tercatat US$8,6 miliar. Sementara itu, ada defisit pada perdagangan China menjadi US$18,7 miliar setelah sebelumnya US$20,8 miliar.

“Di lain pihak, surplus pada perdagangan di Indonesia dibandingkan dengan India menyempit menjadi US$7,6 miliar dari sebelumnya US$8,8 miliar. Di saat surplus di Uni Eropa juga menyempit menjadi US$2,0 miliar dari sebelumnya US$3,0 miliar dikarenakan turunnya ekspor minyak sawit,” jelas Satria dikutip Kamis (16/1/2020).

Dia menilai, hal yang menarik adalah surplusnya perdagangan di Indonesia beserta sejumlah negara di Asia Tenggara secara signifikan sekitar US$6,4 miliar dari sebelumnya US$3,9 miliar. Dia menilai, perang dagang AS dan China telah menggiring pergeseran pada rantai pasokan regional yang memberi efek pada mekanisme ekspor manufaktur seperti; besi, baja, komponen mesin mobil dan permesinan industri.

“Kondisi itulah yang membuat Indonesia merasakan banyak keuntungan,” tutur Satria.

Secara keseluruhan 2019, Indonesia mencatatkan defisit tipis US$3,19 miliar. Defisit ini membaik signifikan dari defisit pada 2018 yang tercatat menyentuh US$8,7 miliar.

Pada 2020, Satria menilai masih ada peluang surplus pada tahun ini sekitar US$2 miliar. Menurutnya hal itu memungkinkan terjadi dengan adanya akselerasi pada kinerja ekspor produk manufaktur. Satria juga memprediksi ekspor 2020 akan tumbuh 8,8% atau sekitar US$182,2 miliar tahun ini, atau dengan perkiraan US$15,19 miliar pada setiap bulan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Achmad Aris
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top