Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Hasil Investigasi Tumpahan Minyak Pertamina Tunggu Data Halliburton

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) masih menunggu Halliburton menyampaikan data evaluasi tumpahan minyak di sumur YYA-1 untuk menyelesaikan proses investigasi.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 16 Januari 2020  |  12:44 WIB
Petugas mengumpulkan tumpahan minyak mentah yang tercecer di Laut Utara Karawang, Jawa Barat. Foto - Antara
Petugas mengumpulkan tumpahan minyak mentah yang tercecer di Laut Utara Karawang, Jawa Barat. Foto - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) masih menunggu Halliburton, perusahaan jasa migas asal Amerika Serikat, menyampaikan data evaluasi tumpahan minyak di sumur YYA-1 untuk menyelesaikan proses investigasi.

Deputi Operasi SKK Migas Julius Wiratno mengatakan laporan dari PT Pertamina (Persero) sudah masuk pada 31 2019. Menurutnya, dari hasil rapat terakhir, SKK Migas tinggal menunggu paparan data dari kontraktor yang digunakan oleh Pertamina tersebut. 

"Laporan Pertamina baru di-submit 31 desember 2019 ke kami, itu pun baru executive summary-nya. Pertamina terbuka, tapi kita lihat datanya belum lengkap karena data dari Halliburton belum dikirimkan," tuturnya, Rabu (15/1/2020).

Julius mengatakan tahap evaluasi investigasi terus berlangsung dengan melibatkan tim independen dari kalangan akademisi ataupun Pertamina. 

Sementara itu, Direktur Teknik dan Lingkungan Migas Adhi Wibowo memastikan tumpahan minyak terjadi akibat ledakan prematur yang terjadi di kedalaman sekitar 700 kaki yang seharusnya terjadi di kedalaman sekitar 6.000 kaki.

Ledakan itu menyebabkan kerusakan pipa dan merusak formasi lapisan tanah sehingga anjungan ikut miring. "Kami masih teliti kenapa ini terjadi ledakan prematur. Bisa saja terjadi di formasi karena ada tekanan sehingga menyebabkan [ledakan]. Sudah confirm [kedalaman ledakan] karena diturunkan kamera," katanya.

Adhi menambahkan pihaknya masih menganalisis kenapa ledakan prematur ini terjadi. Hal ini dilakukan agar ke depan kecelakaan serupa tidak terjadi lagi.

"Apakah nanti ada perubahan SOP atau apa, kami tidak mencari siapa yang salah," katanya.

Dia menambahkan investigasi memerlukan waktu 1 bulan ke depan hingga pemerintah merilis hasil evaluasi investigasi. Adapun tim independen yang dimaksud adalah Tim Independen Pengendalian Keselamatan Migas (TIPKM).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertamina tumpahan minyak
Editor : Lucky Leonard
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top