Defisit Neraca Dagang Desember 2019 Diperkirakan Capai US$970 Juta

Kepala Ekonom BNI Ryan Kiryanto menyatakan, perkiraan defisit US$970 juta berdasarkan prediksi masih ada potensi kenaikan ekspor 0,94% (yoy) dan impor yang naik 0,07% (yoy).
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 14 Januari 2020  |  10:39 WIB
Defisit Neraca Dagang Desember 2019 Diperkirakan Capai US$970 Juta
Aktivitas perdagangan di pelabuhan - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Neraca Perdagangan pada Desember 2019 diprediksi masih akan mengalami defisit dengan nilai sekitar US$970 juta.

Kepala Ekonom BNI Ryan Kiryanto menyatakan, perkiraan defisit US$970 juta berdasarkan prediksi masih ada potensi kenaikan ekspor 0,94% (yoy) dan impor yang naik 0,07% (yoy). Meski demikian, kenaikan angka impor pada Desember 2019 terutama didukung oleh kenaikan impor nonmigas. Misalnya barang-barang konsumsi untuk kebutuhan Natal dan Tahun Baru.

“Sementara itu kenaikan ekspor lebih banyak didukung oleh naiknya harga komoditas sawit dan timah,” jelas Ryan kepada Bisnis.com, Senin (13/1/2020).

Dia memerinci, kondisi ekspor maupun impor Indonesia hanya naik tipis dibandingkan dengan tahun lalu karena permintaan ekspor masih terbatas akibat perlambatan ekonomi dunia dan perang dagang yang berlanjut. Selain itu juga dipicu oleh kondisi manufaktur yang masih menurun pada kuartal IV/2019.

Dia membandingkan, pada Desember 2018 ekspor Indonesia pun tercatat US$14,29 miliar, sedangkan impor tercatat US$15,36 miliar. Sementara itu prediksi Desember 2019, ekspor Indonesia diperkirakan US$14,42 miliar dan impor sebesar US$15,37 impor.

Oleh sebab itu, secara tahunan, defisit neraca perdagangan tahun 2019 diperkirakan sebesar US$4,07 miliar. Angka ini masih lebih baik jika dibandingkan dengan posisi pada 2018 dengan defisit tertinggi sebesar US$8,69 miliar.

Bisnis.com mencatat, defisit pada akhir 2018 menjadi defisit terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Namun Ryan meyakini kondisi tersebut tidak akan terulang pada 2019.

“Memang kondisi 2019 lebih tahan dari 2018 karena ada kesadaran untuk menekan impor,” kata Ryan.

Dia juga menambahkan, perbaikan kondisi neraca dagang 2019 dibandingkan dengan 2019 berkat efek positif penurunan harga minyak dunia terhadap impor migas RI sebagai net importir. Adapun program B20 menurut Ryan sudah terbukti cukup membantu menekan impor migas.

“Mulai ada kesadaran menggunakan bahan baku lokal,” sambung Ryan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Neraca Perdagangan

Editor : Achmad Aris
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top