Ekonom: Target Pertumbuhan Ekonomi 2020 Sulit Tercapai

Ekonom CSIS Indonesia Fajar B. Hirawan menuturkan, kemungkinan Indonesia mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3% pada 2020 cukup kecil. Pasalnya, ketidakpastian global diperkirakan masih akan terjadi sepanjang tahun 2020.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 10 Januari 2020  |  16:05 WIB
Ekonom: Target Pertumbuhan Ekonomi 2020 Sulit Tercapai
Pekerja melakukan aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Bongkar Muat Tanjung Priok milik Pelindo II, Jakarta, Kamis (28/11/2019). - ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah goncangan baik dari luar maupun domestik membuat target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan pemerintah untuk 2020 cukup sulit tercapai.

Ekonom CSIS Indonesia Fajar B. Hirawan menuturkan, kemungkinan Indonesia mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3% pada 2020 cukup kecil. Pasalnya, ketidakpastian global diperkirakan masih akan terjadi sepanjang tahun 2020. 

Hal ini terbukti dengan eskalasi tensi antara Amerika Serikat dan Iran serta perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang masih berlangsung.

Selain itu, sejumlah kebijakan ekonomi pemerintah Indonesia  yang belum rampung untuk 2020 juga menambah halangan untuk mencapai angka pertumbuhan 5,3%. Sejumlah bidang yang kebijakannya belum selesai sepenuhnya sehingga memunculkan hambatan ini diantaranya di bidang investasi dan perdagangan. 

Ia melanjutkan, tekanan terhadap sektor konsumsi rumah tangga, seperti kenaikan beberapa iuran dan tarif, akan memiliki dampak cukup signifikan terhadap laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020. 

“Rentang angka 4,9% hingga 5,1% menurut saya adalah pertumbuhan ekonomi yang paling feasible untuk dicapai oleh Indonesia pada 2020,” katanya saat dihubungi pada Jumat (10/1/2020) di Jakarta. 

Menurut Fajar, hal terpenting yang perlu dilakukan pemerintah adalah menuntaskan agenda kebijakan reformasi struktural serta mengantisipasi dampak yang akan terjadi akibat kenaikan beberapa iuran. Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan belanja modal dan bantuan sosial. Peningkatan jenis belanja ini dinilai dapat menjaga tingkat konsumsi dan daya beli masyarakat. 

“Contohnya seperti belanja modal untuk pembiayaan proyek infrastruktur yang masih belum selesai dapat mengantisipasi melemahnya daya beli masyarakat,” jelasnya. 

Secara terpisah, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, pihaknya akan mewaspadai tiap-tiap peristiwa yang dapat mempengaruhi kondisi perekonomian global dan domestik. Ia pun akan tetap fokus memperkuat ekonomi domestik agar angka pertumbuhan ekonomi Indonesia minimal dapat tetap terjaga seperti tahun lalu. 

"Optimisme tetap kami jaga. Kami ingin perekonomian Indonesia lebih baik dari tahun 2019," katanya. 

Ia mengatakan, risiko kondisi global terhadap perekonomian diperkirakan masih akan dinamis seperti pada tahun 2019. Salah satu faktor penyebabnya adalah pemilu yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat yang menambah faktor politik. 

Selain itu, dunia juga masih terdampak akibat ketidakpastian global pada tahun lalu. Masih banyak negara-negara yang tidak memiliki kapasitas fiskal dan moneter yang memadai untuk meningkatkan ekonominya. 

Sebelumnya, dalam laporan Global Economic Prospects: Slow Growth, Policy Challenges, Bank Dunia mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 di angka 5,1%. 

Proyeksi pertumbuhan ini tetap sama seperti dalam laporan kuartalan Bank Dunia pada Desember 2019 lalu. Angka ini sedikit di bawah target asumsi makro pemerintah dalam APBN 2020 sebesar 5,3%. 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pertumbuhan Ekonomi

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top