Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Produksi Padi 2020 Diperkirakan Stagnan

Volume produksi padi pada 2020 diprediksi tak banyak beranjak dari kinerja tahun lalu seiring dengan mundurnya masa tanam akibat kemarau panjang. 
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 06 Januari 2020  |  10:13 WIB
Petani memanen padi di areal persawahan kawasan Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (22/1/2019). - Bisnis/Rachman
Petani memanen padi di areal persawahan kawasan Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (22/1/2019). - Bisnis/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA — Volume produksi padi pada 2020 diprediksi tak banyak beranjak dari kinerja tahun lalu seiring dengan mundurnya masa tanam akibat kemarau panjang. 

Ketua Umum Asosiasi Bank Benih Tani (AB2TI) Dwi Andreas Santosa menjelaskan bahwa panen padi diperkirakan baru akan terjadi pada Maret sampai April menyusul mundurnya masa penanaman pertama. Kemarau yang lebih panjang pada 2019 menyebabkan sebagian besar petani memilih menanam padi pada penghujung tahun seiring datangnya musim hujan. 

“Ada potensi tak membaik, kemungkinan sama dengan 2019. Produksi 2019 kan turun sekitar 2 juta ton dibandingkan 2018, jadi 2020 tidak berbeda dengan 2019 kalau nanti masuk musim kemaraunya normal. Jadi, kita perlu agak serius memikirkan masalah ketersediaan di tahun 2020,” kata Dwi ketika dihubungi Bisnis, baru-baru ini. 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan total produksi pada 2018 berjumlah 56,54 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara dengan 32,42 juta ton beras. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memperkirakan musim hujan terjadi selama November 2019 sampai Maret 2020 dengan puncak penghujan pada Februari sampai Maret. 

Adapun musim kemarau diperkirakan terjadi pada April sampai Oktober dan tidak serentak di seluruh Indonesia. Dwi mengemukakan siklus cuaca ini bakal mempengaruhi masa tanam kedua tanaman pangan. 

Menurutnya, sebagian petani bakal memilih menanam tanaman palawija di tengah potensi pasokan air yang berkurang alih-alih menanam padi. 

“Perkiraan panen masa tanam pertama Maret dan masuk puncak pada April, setelah itu Mei akan memasuki kemarau. Sebagian petani tak lagi menanam padi, tetapi palawija. Untuk itu dua komoditas akan bersaing untuk memperoleh lahan yakni padi dan jagung,” ujarnya. 

Sementara itu, Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Agung Hendriadi memastikan bahwa pasokan padi bakal aman selama masa tanam sampai puncak panen yang berlangsung pada Maret sampai April.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pangan padi
Editor : Lucky Leonard

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top