Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pendapatan Bersih Chandra Asri Petrochemical Turun

Direktur CAP Suryandi mengatakan perawatan mesin terjadwal pada Agustus dan September membuat perseroan hanya mampu mencetak pendapatan bersih senilai US$1,38 miliar pada Januari—September 2019.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 31 Desember 2019  |  16:32 WIB
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan pabrik Polyethylene (PE) baru berkapasitas 400.000 ton per tahun di kompleks petrokimia terpadu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), Cilegon, Banten, Selasa, (18/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan pabrik Polyethylene (PE) baru berkapasitas 400.000 ton per tahun di kompleks petrokimia terpadu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), Cilegon, Banten, Selasa, (18/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA – PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (CAP) mencatatkan penurunan pendapatan bersih hingga 29,3% pada 9 bulan berjalan tahun ini. Perseroan menilai hal tersebut disebabkan oleh volume penjualan yang lebih rendah akibat perawatan mesin terjadwal.

Direktur CAP Suryandi mengatakan perawatan mesin terjadwal pada Agustus dan September tersebut membuat perseroan hanya mampu mencetak pendapatan bersih senilai US$1,38 miliar pada Januari—September 2019.

Menurut Suryandi, perawatan mesin tersebut dilakukan untuk mengintegrasikan ekspansi produksi polyethylene dan polypropylene perseroan yang mulai beroperasi. Selain itu, penurunan pendapatan bersih tersebut juga disebabkan oleh harga jual ethylene dan polyethylene yang lebih rendah.

"Pabrik polyethylene baru berkapasitas 400.000 ton per tahun dan tambahan kapasitas polypropylene sebesar 110.000 ton per tahun melalui debottlenecking. Semua itu dilakukan dengan lancar, lebih cepat dari jadwal dan sesuai anggaran," katanya dalam keterangan tertulis belum lama ini.

Adapun, earnings before interest, taxes, depreciation and amortization (EBITDA) perseroan anjlok 53,9% menjadi US$337,4 juta. Suryandi menyampaikan hal tersebut merupakan hasil dari margin industri Petrokimia yang lebih rendah.

Pasalnya, pasokan polymer saat ini berlebih akibat perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Selain itu, perang dagang juga menyebabkan permintaan polimer global turun.

Walaupun bottom line perseroan tertekan, Suryandi meyakinkan bahwa perseroan tetap menjaga likuiditas dan fleksibilitas perseroan dengan saldo kas senilai US$569,2 juta pada akhir kuartal III/2019.

Suryandi mengatakan pihaknya membuat kemajuan yang solid menuju keputusan investasi akhir CAP II. Adapun, CAP II adalah fasilitas cracker kedua perseroan yang ditargetkan rampung sekitar 2023.

"[CAP II] akan memberikan pertumbuhan eksponensial dan berkontribusi terhadap peningkatan pasokan produk petrokimia domestik, mengurangi impor, dan meningkatkan neraca pembayaran defisit," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

chandra asri petrochemical
Editor : Galih Kurniawan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top