Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

JELAJAH INFRASTRUKTUR SUMATRA 2019 : Tumbuhnya Perekonomian di Bumi Andalas

Satu demi satu, pembangunan jalan tol Trans-Sumatra yang dimulai sejak 2015 rampung. Perlahan, tapi pasti, jalan tol juga mulai memberi maslahat bagi masyarakat.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 17 Desember 2019  |  06:53 WIB
Foto udara simpang susun KM 108 jalan tol Bakauheni-Terbanggi Besar, Lampung, Sabtu (4/5/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Foto udara simpang susun KM 108 jalan tol Bakauheni-Terbanggi Besar, Lampung, Sabtu (4/5/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Pembangunan megaproyek jalan tol Trans-Sumatra dimulai pada 2015. Saat ini, jalan tol Trans-Sumatra telah beroperasi di empat ruas, yaitu Medan—Binjai 17 kilometer, Palembang—Indralaya 22 kilometer, Bakauheni—Terbanggi Besar 140,90 kilometer), dan Terbanggi Besar—Kayu Agung 189 kilometer.

Pada awal 2020, jalan tol Pekanbaru—Dumai sepanjang 131 kilometer dijadwalkan beroperasi. Walhasil, dalam 5 tahun saja, PT Hutama Karya (Persero) bisa mengoperasikan 500 kilometer. Sebuah pencapaian baru yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

PT Hutama Karya merupakan BUMN yang mendapat penugasan dari pemerintah untuk membangun jalan tol Trans-Sumatra yang tertuang dalam Perpres No. 117 Tahun 2015.

Secara keseluruhan, 24 ruas yang ditugaskan kepada Hutama Karya mencapai 2.765 kilometer.

Bisnis menyaksikan secara langsung pembangunan jalan tol Trans-Sumatra, mulai dari Agustus 2018 di ruas Bakauheni—Terbanggi Besar hingga Pekanbaru—Dumai pada November 2019.

Bisnis juga menerjunkan Tim Jelajah Infrastruktur Sumatra sebanyak tiga kali dalam rentang April hingga November 2019 yang bertujuan memotret peluang ekonomi yang muncul dari keberadaan jalan tol.

Pada fase pertama, Tim Jelajah melawat ke dua provinsi, yaitu Lampung dan Sumatra Selatan pada akhir April 2019. Fase kedua pada September juga melawat ke dua provinsi itu, ditambah dengan lawatan ke Bengkulu. Fase terakhir dijalani pada November lalu, Tim Jelajah menyambangi Provinsi Riau.

Hasil penjelajahan Tim menunjukkan bahwa keberadaan jalan tol ternyata telah memicu geliat di sektor jasa dan ekonomi rakyat. Angkutan penyeberangan di Pelabuhan Merak, Banten tumbuh hingga 7 persen dalam periode Maret—April 2019.

Sektor perhotelan juga berkembang dalam 8 bulan operasional jalan tol Bakauheni—Terbanggi Besar (Bakter). Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung, tingkat hunian kamar berbintang dalam periode Maret—Oktober 2019 naik 26 basis poin menjadi 59,16 persen. Jumlah tamu menginap secara kumulatif dibandingkan dengan periode Maret—Oktober 2018 tumbuh 27 persen menjadi 421.037 orang.

Selain itu, pengoperasian jalan tol di Sumatra menjadi pintu masuk bagi pengembangan transaksi nontunai. Di pelabuhan penyeberangan, baik Merak maupun Bakauheni, Lampung, operator sudah menerapkan cara nontunai.

Dalam dua episode Jelajah Infrastruktur Sumatra 2019, Tim pun menggunakan kartu uang elektronik TapCash yang diterbitkan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

Kalangan perbankan di Sumatra bagian selatan menilai pengoperasian jalan tol bakal meningkatkan penetrasi transaksi nontunai di wilayah tersebut. Adapun di Sumatra bagian Tengah, jalan tol diharapkan bisa membuka ekosistem pembayaran nontunai di Riau hingga Sumatra Barat.

Pembangunan jalan tol Pekanbaru—Dumai./Himawan L. Nugraha.

Pengemudi truk menjadi pihak yang paling menikmati keberadaan jalan tol di Sumatra. Kini, bila melalui jalan tol, Bakauheni hingga Kayu Agung bisa ditempuh dalam waktu lebih kurang 5 jam 40 menit dengan kecepatan rata-rata 60 kilometer per jam.

Tim Jelajah sempat menemui sejumlah sopir truk di Lampung maupun Palembang. Jawaban mereka sama, jalan tol bisa memangkas waktu tempuh dan mengurangi risiko gangguan keamanan.

Direktur Utama Hutama Karya Bintang Perbowo mengatakan bahwa ada 85 potensi ekonomi di sepanjang koridor Trans-Sumatra yang bisa digarap, mulai dari pembangkit listrik, kawasan industri, bandara, pelabuhan, hingga infrastruktur perairan seperti irigasi dan bendungan.

Sejauh ini, Hutama Karya sudah menjalin kesepakatan dengan para mitra untuk mengembangkan kawasan pariwisata di Bakauheni dan kawasan industri di Panjang, Lampung. Lahan yang akan disulap mencapai lebih dari 100 hektare untuk setiap lokasi.

Untuk mendukung industrialisasi, pasokan listrik juga perlu terjamin. PLN UID Lampung menyebutkan bahwa pertumbuhan industri di Lampung tumbuh pesat dan makin kuat berkat kehadiran jalan tol Trans-Sumatra. Dan PLN siap memasok kebutuhan listrik untuk industri.

Realisasi pembangunan jalan tol Trans Sumatra memang masih seperlima dari target. Namun, dari apa yang sudah terbangun, geliat dan harapan sudah muncul ke permukaan. Bukan tidak mungkin, jalan tol akan mengubah banyak wajah Sumatra pada masa depan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

PLN bni hutama karya trans-sumatra Jelajah Infrastruktur Sumatra 2019

Sumber : Jelajah Sumatra

Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top