Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pembiayaan dan Investasi untuk Mitigasi Perubahan Iklim Belum Optimal

Upaya Indonesia menurunkan emisi di sektor energi harus melalui jalan terjal. Salah satu yang menghambat, yakni belum optimalnya pembiayaan mitigasi perubahan iklim dari sumber daya dalam negeri.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 10 Desember 2019  |  17:05 WIB
Peserta World Climate Change Conference 2015 (COP21) melihat peta dunia yang menunjukkan anomali iklim di Le Bourget, dekat Paris, Prancis, Selasa (8/12/2015). - Reuters/Stephane Mahe
Peserta World Climate Change Conference 2015 (COP21) melihat peta dunia yang menunjukkan anomali iklim di Le Bourget, dekat Paris, Prancis, Selasa (8/12/2015). - Reuters/Stephane Mahe

Bisnis.com, JAKARTA - Upaya Indonesia menurunkan emisi di sektor energi harus melalui jalan terjal. Salah satu yang menghambat, yakni belum optimalnya pembiayaan mitigasi perubahan iklim dari sumber daya dalam negeri.

Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Maxensius Tri Sambodo mengatakan Indonesia memiliki peta jalan (roadmap) keuangan berkelanjutan pada 2015-2019. Indonesia juga telah menerbitkan green bond dan green sukuk yang mengantarkan energi terbarukan masuk kategori dark green

Menurutnya, ini bisa menjadi pendanaan yang kompetitif. Namun, untuk green sukuk misalnya, masih didominasi oleh green investor

"Ini instrumen yang bisa dioptimalkan, terutama untuk investor yang masih ragu bermain di green bond dan green sukuk. Ritel bisa masuk. Literasi harus didorong," katanya di kantor LIPI, Jakarta, Selasa (10/12/2019).

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun sudah mengeluarkan peraturan No.60/POJK.03/2017 tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan Bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik.

"Namun sampai saat ini, [dari] report terkait hal itu tampak sekali basis perbankan kita masih minim. Tidak ada pembiayaan," imbuhnya.

Maxensius berharap laporan keuangan berkelanjutan itu tidak bersifat administrasi saja melainkan substansial. "Perlu didorong berapa persen kredit dari sektor perbankan yang disalurkan untuk sektor green energy," tambahnya.

Faktor lainnya terkait pendanaan mitigasi perubahan iklim, kata Maxensius, yakni suku bunga bank yang terlalu tinggi.

Adapun Indonesia berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29% (dengan usaha sendiri) dan sebesar 41% (jika mendapat bantuan internasional) pada 2030. Upaya reduksi emisi terbesar ada pada sektor energi. 

Pada 2030, sektor energi ditargetkan menurunkan emisi sebanyak 314,03 juta ton atau 14%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

energi terbarukan perubahan iklim
Editor : Lucky Leonard
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top