Tak Banyak Pebisnis di Asia Tenggara yang Siap Hadapi Risiko Penurunan

Dalam survei terbaru terhadap CEO dan CFO di seluruh Asia Tenggara, Bain & Company menemukan bahwa 77% dari mereka memproyeksikan penurunan parah di wilayah ini dalam 2 tahun ke depan, tetapi hanya 37% yang memperkirakan dampak yang parah terhadap perusahaan mereka.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 09 Desember 2019  |  17:55 WIB
Tak Banyak Pebisnis di Asia Tenggara yang Siap Hadapi Risiko Penurunan
Gedung perkantoran terlihat dari ketingian di Jakarta, Senin (13/3). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA - Penelitian baru dari Bain & Company, berjudul A Downturn Favoured the Prepared, Even for Southeast Asian Companies, menunjukkan bahwa perusahaan yang dipersiapkan dengan baik akan menjadi pihak yang diuntungkan selama dan setelah penurunan ekonomi.

Dalam survei terbaru terhadap CEO dan CFO di seluruh Asia Tenggara, Bain & Company menemukan bahwa 77% dari mereka memproyeksikan penurunan parah di wilayah ini dalam 2 tahun ke depan, tetapi hanya 37% yang memperkirakan dampak yang parah terhadap perusahaan mereka.

"Sayangnya, hanya 20% dari seluruh responden yang memiliki tindakan atau rencana signifikan," menurut penelitian tersebut, dikutip melalui rilis yang diterima Bisnis.com, Senin (9/12/2019).

Di Indonesia, banyak eksekutif senior belum secara serius untuk mulai mempersiapkan potensi penurunan.

Menurut laporan tersebut, ketidaksiapan ini bisa membuat perusahaan mereka lebih sulit untuk bangkit setelah ekonomi pulih kembali, meskipun dampaknya akan berbeda di setiap negara di kawasan ini.

Pangsa ekspor Indonesia menuju China telah meningkat 7% sejak 2006, membuat negara itu lebih terekspos ke pasar China, di mana pertumbuhannya telah berkurang separuhnya akibat perang perdagangan berkelanjutan berpotensi semakin memperlambat pertumbuhan.

Kontribusi komoditas untuk PDB Indonesia juga turun dari 29% menjadi 22%, dan harga dapat turun lebih jauh. Utang perusahaan dan rumah tangga meningkat dari 25% menjadi 39% terhadap PDB.

Untungnya, tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya turun 0,35% dari 2006 hingga 2018.

Untuk para pemimpin bisnis di Indonesia, tindakan kritis sedang disiapkan untuk memanfaatkan momen ketika mereka memiliki lebih banyak pilihan.

"Mempersiapkan diri lebih dini akan memberikan perusahaan Indonesia untuk memenangkan pangsa pasar dan berekspansi, meningkatkan potensi celah keuntungan yang lebih lebar pada ekspansi berikutnya" kata Nader Elkhweet, rekan penulis, mitra dan kepala kantor Bain & Company di Jakarta.

Dia menambahkan, dengan mengambil pendekatan jauh ke depan, tentang seperti apa masa depan perusahaan untuk 5 hingga 10 tahun ke depan, pemilik usaha dapat memanfaatkan penurunan sebagai peluang untuk mencapai pertumbuhan pada masa depan.

Langkah tersebut dapat dilakukan melalui operasi yang lebih efisien dan investasi selektif ketika harga aset dan biaya pinjaman lebih rendah.

Analisis Bain menemukan bahwa selama krisis keuangan global terakhir, sekelompok 200 perusahaan publik di Asia Tenggara rata-rata membukukan pertumbuhan pendapatan dua digit.

Begitu krisis menghantam, kinerja menyimpang tajam.

Tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) perusahaan dengan keuntungan besar rata-rata sebesar 20% dari 2007 hingga 2009, performa ini sangat kontras dengan perusahaan dengan kinerja lebih rendah, yang nyaris tidak mencapai CAGR 2%.

Pascakrisis, mereka yang berkinerja baik diproyeksikan untuk mencatat pertumbuhan keuntungan rata-rata 7%, dari 2012 hingga 2017, sedangkan yang kurang beruntung tergelincir pada -3%.

Tanguy Morin, principal Bain & Company di Singapura, yang juga menulis laporan ini mengatakan, para pemimpin yang cerdas di Indonesia dan seluruh Asia Tenggara menyadari keuntungan dari persiapan yang matang sebelum risiko menjadi lebih tinggi.

Bahkan jika perusahaan mereka belum terdampak dan saat ini masih fokus pada pengelolaan pertumbuhan.

"Jika pola di masa lalu digunakan dalam panduan apa pun, strategi yang menjamin bisnis terhindar dari penurunan akan memungkinkan perusahaan untuk mencuri kesempatan dari pesaing yang goyah dan jatuh ke posisi tertinggal," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perusahaan

Editor : Achmad Aris
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top