Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penerimaan Pajak Shortfall, Pemerintah Lebarkan Defisit

Suahasil memaparkan, kondisi ekonomi global yang tak menentu selama 2019 berdampak pada penerimaan pajak yang tidak sesuai dari target. Akibatnya, pemerintah perlu melakukan sejumlah upaya agar pengelolaan APBN tetap optimal.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 09 Desember 2019  |  16:22 WIB
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara memberikan pemaparan dalam acara BNI-Bisnis Indonesia Business Challenges 2020 di Jakarta, Senin (9/12/2019). Acara ini merupakan transformasi dari Economic Outlook dan Economic Challenges yang digelar setiap akhir tahun oleh Harian Bisnis Indonesia,  bertujuan untuk melihat arah bisnis dan politik di tahun berikutnya. Event besar ini dihadiri oleh para pejabat tinggi pemerintah dan para  pemimpin perusahaan. Bisnis - Triawanda Tirta Aditya
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara memberikan pemaparan dalam acara BNI-Bisnis Indonesia Business Challenges 2020 di Jakarta, Senin (9/12/2019). Acara ini merupakan transformasi dari Economic Outlook dan Economic Challenges yang digelar setiap akhir tahun oleh Harian Bisnis Indonesia, bertujuan untuk melihat arah bisnis dan politik di tahun berikutnya. Event besar ini dihadiri oleh para pejabat tinggi pemerintah dan para pemimpin perusahaan. Bisnis - Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA - Tidak tercapainya target penerimaan pajak membuat pemerintah harus melakukan pelebaran defisit hingga 2,2% pada tahun ini.

Hal ini diungkapkan oleh Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam acara BNI - Bisnis Indonesia Business Challenges 2020 di Jakarta, Senin (9/12/2019).

Suahasil memaparkan, kondisi ekonomi global yang tak menentu selama 2019 berdampak pada penerimaan pajak yang tidak sesuai dari target. Akibatnya, pemerintah perlu melakukan sejumlah upaya agar pengelolaan APBN tetap optimal.

Salah satu cara yang ditempuh adalah melakuka. penyesuaian pembiayaan melalui utang. Ia mengatakan, dengan melakukan pembiayaan tambahan, defisit Indonesia pada akhir tahun 2019 diproyeksikan berada di posisi 2,2% dari sebelumnya 1,84%.

Ia mengatakan pemerintah tidak terlalu mempermasalahkan terjadinya pelebaran defisit. Pasalnya, hal ini dilakukan agar APBN tetap dapat mendukung momentum pertumbuhan perekonomian.

"Ini [pelebaran defisit] tidak apa-apa, bukan hal yang negatif. Ini perlu dilakukan karena kita ingin pertumbuhan ekonomi kita minimal tetap berada pada level 5%" jelas Suahasil.

Selain itu, efisiensi anggaran juga telah dilakukan Kementerian Keuangan. Suahasil mengatakan, pihaknya telah mengimbau seluruh instansi untuk menahan pengeluaran yang tidak perlu guna menjaga ekonomi Indonesia.

Adapun realisasi pendapatan negara hingga Oktober 2019 mencapai Rp1.508,9 triliun atau 69,7% dari pagu anggaran. Penerimaan ini terdiri atas PNBP sebanyak Rp333,3 triliun dan pemasukan pajak senilai Rp1.173,9 triliun.

Sementara itu, realisasi belanja berada pada angka Rp1.798 triliun atau 73,1% dari anggaran. Realisasi belanja modal sebesar Rp100,8 triliun, belanja bantuan sosial senilai Rp91,7 triliun, belanja subsidi berjumlah Rp146,2 triliun dan sisanya adalah belanja Kementerian/Lembaga.

Adapun realisasi pembiayaan anggaran telah mencapai Rp373,4 triliun atau 126,4% dari pagu anggaran.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

defisit anggaran
Editor : Achmad Aris

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top