Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Semua Langkah Atasi CAD sudah Dilakukan, Kecuali Satu Ini

Ekonom Bank Danamon Wisnu Wardana menyatakan secara rinci, empat masalah utama CAD yakni; ekspor utama yang masih berupa komoditas primer, impor minyak yang berbanding lurus dengan kegiatan ekonomi, penggunaan kapal yang berbasis di luar negeri untuk kegiatan perdagangan Indonesia, dan ekses dari pembiayaan investasi asing di Indonesia berupa pembayaran dividen atau kupon.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 28 November 2019  |  16:40 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Ada empat sumber masalah defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) di Indonesia, tetapi baru tiga persoalan yang sudah memiliki solusi.

Ekonom Bank Danamon Wisnu Wardana menyatakan secara rinci, empat masalah utama CAD yakni; ekspor utama yang masih berupa komoditas primer, impor minyak yang berbanding lurus dengan kegiatan ekonomi, penggunaan kapal yang berbasis di luar negeri untuk kegiatan perdagangan Indonesia, dan ekses dari pembiayaan investasi asing di Indonesia berupa pembayaran dividen atau kupon.

Dia menilai sudah ada sejumlah kebijakan yang selama 5 tahun terakhir dikerjakan oleh pemerintah. Pertama, hilirisasi komoditas yang bernilai tambah, disinsentif atas ekspor komoditas mentah, serta diversifikasi produk dan destinasi ekspor, juga penguatan industri manufaktur untuk ekspor. Kedua, penguatan Pertamina dalam hal proses pengolahan minyak agar impor dapat dikurangi. Ketiga, insentif dalam RUU Pajak untuk dividen yang ditahan.

“Artinya, masalah soal penggunaan kapal ini yang masih perlu perhatian,” kata Wisnu kepada Bisnis.com, Kamis (28/11/2019).

Dia menjelaskan, untuk solusi hilirisasi komoditas dan penguatan produk minyak domestik bahkan sudah dikerjakan sejak masa pemerintahan Presiden SBY. Sementara itu masalah insentif dalam RUU Pajak untuk dividen yang ditahan menurut Wisnu akan semakin baik jika dibarengi dengan arus investasi asing ke produk yang berorientasi ekspor,

“Untuk poin soal penguatan kapal nasional juga sebenarnya sudah dimulai masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, misalnya melalui tol laut, dan infrastruktur pelabuhan,” sambung Wisnu.

Hanya saja, sambung Wisnu, perlu ada evaluasi dan keberlanjutan dari sejumlah program penguatan transportasi nasional. Termasuk terkait dengan insentif terhadap industri perkapalan yang bisa maju dan setara dengan negara lain. Sehingga, pembayaran ke luar negeri untuk penggunaan kapa asing bisa berkurang dalam kegiatan ekspor dan impor.

Asal tahu saja, hal ini terbukti berdasarkan Laporan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal III/2019 yang dikeluarkan Bank Indonesia, neraca perdagangan jasa pada kuartal III/2019 mengalami defisit US$2,3 miliar lebih tinggi dibandingkan dengan defisit pada kuartal sebelumnya US$1,9 miliar.

Pasalnya peningkatan defisit neraca jasa ini disumbang paling besar dari sektor transportasi. Padahal sektor jasa perjalanan mengalami surplus, tetapi tak cukup kuat menambal defisit dari sektor transportasi.

Adapun penyebab tingginya defisit neraca jasa dari sektor transportasi ialah kenaikan pembayaran jasa freight sebesar US$1,9 miliar dari kuartal sebelumnya US$1,8 miliar.

Selain itu jumlah wisatawan nasional keluar negeri mengalami peningkatan terutama pada saat musim pelaksanaan ibadah haji.

Oleh sebab itu, menurut Wisnu, ada beberapa opsi lain yang bisa jadi solusi menekan defisit neraca jasa pada sektor transportasi. Misalnya dengan pembelian storage atau peralatan pendukung untuk kapal mendapatkan insentif pajak yang lebih rendah. Sehingga total investasi bisa menjadi lebih murah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

defisit transaksi berjalan
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top