Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Perubahan Positif Situasi Global dan Domestik Bantu Dorong Ekonomi Indonesia 2020

Kepala Ekonom DBS Indonesia Masyita Crystalin menuturkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 diperkirakan dapat mencapai kisaran 5% hingga 5,1%. Hal ini karena sistem ekonomi Indonesia yang masih didominasi konsumsi domestik mampu menjaga kestabilan pertumbuhan ekonomi.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 27 November 2019  |  07:11 WIB
Pemandangan deretan gedung bertingkat di ibu kota terlihat dari kawasan Tanah Abang, Jakarta, Selasa (5/11/2019). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2019 tumbuh sebesar 5,02 persen secara tahunan, capaian tersebut lebih rendah dari kuartal II 2019 yang mencapai 5,05 persen. - ANTARA FOTO/Galih Pradipta
Pemandangan deretan gedung bertingkat di ibu kota terlihat dari kawasan Tanah Abang, Jakarta, Selasa (5/11/2019). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2019 tumbuh sebesar 5,02 persen secara tahunan, capaian tersebut lebih rendah dari kuartal II 2019 yang mencapai 5,05 persen. - ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah situasi global dan domestik dinilai akan berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020.

Kepala Ekonom DBS Indonesia Masyita Crystalin menuturkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 diperkirakan dapat mencapai kisaran 5% hingga 5,1%. Hal ini karena sistem ekonomi Indonesia yang masih didominasi konsumsi domestik mampu menjaga kestabilan pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, Masyita mengatakan ada sejumlah faktor yang dapat membantu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan. Pertama, kebijakan moneter di seluruh dunia diperkirakan  melonggar. Hal ini akan berpengaruh pada membaiknya tingkat likuiditas.

"Tingkat likuiditas ini juga diharapkan dapat mencapai negara-negara berkembang, termasuk Indonesia," jelasnya saat ditemui di Jakarta pada Selasa (26/11/2019).

Faktor lainnya adalah pemilihan umum presiden Amerika Serikat. Pesta politik di negeri Paman Sam dinilai akan sedikit memperbaiki stabilitas ekonomi dunia karena fokus negara yang akan berpindah pada pemilu.

Selain itu, tingkat ketidakpastian politik yang berkaitan dengan ekonomi di Indonesia juga akan berkurang. Pasalnya, pemilihan umum telah rampung yang didukung dengan telah terisinya pos-pos kabinet serta program-program kerja dalam beberapa tahun ke depan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah.

"Seharusnya periode wait and see investor sudah selesai sehingga aliran investasi akan semakin meningkat," jelasnya.

Berkurangnya ketidakpastian ini, lanjutnya, harus dimanfaatkan pemerintah untuk menarik lebih banyak investasi dari pihak swasta. Ia menilai selama 3 tahun terakhir, investasi di Indonesia masih didominasi oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Masyita mengatakan, pemerintah harus mampu meyakinkan pihak swasta terkait iklim investasi Indonesia yang semakin kondusif. Beragam kebijakan seperti debirokratisasi perizinan ataupun omnibus law dapat menjadi "jualan" pemerintah kepada calon-calon investor swasta.

"Naiknya investasi swasta dikombinasikan dengan aliran modal dari BUMN akan semakin mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi," imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top