Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dengan Penghematan Energi, China Berpotensi Jadi Negara Termaju pada 2050

Tingkat tabungan dan investasi yang tinggi di negara ini memungkinkan pengeluaran yang diperlukan untuk memenuhi kedua tujuan tersebut, menurut laporan oleh The Energy Transitions Commission (ETC), koalisi eksekutif global dari seluruh lanskap energi yang berkomitmen pada perjanjian iklim Paris.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 25 November 2019  |  12:46 WIB
Yuan - Bloomberg
Yuan - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - China dapat menjadi ekonomi yang sepenuhnya maju dan tidak menghasilkan emisi karbon apa pun pada pertengahan abad ini.

Tingkat tabungan dan investasi yang tinggi di negara ini memungkinkan pengeluaran yang diperlukan untuk memenuhi kedua tujuan tersebut, menurut laporan oleh The Energy Transitions Commission (ETC), koalisi eksekutif global dari seluruh lanskap energi yang berkomitmen pada perjanjian iklim Paris.

Langkah China, sebagai ekonomi terbesar kedua, menuju target nol emisi sangat penting bagi dunia untuk melawan perubahan iklim.

Meskipun China telah menghabiskan lebih banyak uang daripada negara lain untuk energi bersih, negara ini masih merupakan konsumen terbesar batu bara, bahan bakar fosil paling kotor.

China juga diperkirakan memiliki kapasitas tenaga batu bara yang sama dengan kapasitas energi 28 negara anggota Uni Eropa.

"Bangsa ini dapat melipattigakan pertumbuhan ekonomi per kapita dan standar hidup sambil memotong permintaan energi final sebesar 27% pada 2050," tulis ETC, dalam laporan yang diterbitkan dengan Rocky Mountain Institute, dikutip melalui Bloomberg, Senin (25/11/2019).

Untuk mencapai target ini, dibutuhkan langkah pengurangan penggunaan baja dan semen, penggunaan material seperti plastik, dan langkah-langkah efisiensi energi termasuk elektrifikasi transportasi.

CEO Rocky Mountain Institute (RMI) Jules Kortenhorst menyampaikan bahwa China memiliki keunggulan kelembagaan, keuangan, dan teknologi dari sumber daya terkonsentrasi untuk mencapai target besar.

Kemampuan yang membuatnya memiliki posisi yang baik untuk merangsang investasi jangka panjang dan skala besar setelah menetapkan tujuan strategis.

"Kelebihan ini akan membantu meletakkan dasar yang kuat bagi China untuk mengejar tujuan nol-karbon pada 2050 dan mendapatkan manfaat bagi ekonomi dan lingkungan," ujar Kortenhorst.

Total permintaan energi primer China bisa turun 45% dari hari ini hingga 2050 akibat dari berkurangnya energi yang hilang pada pembangkit listrik.

Target nol-emisi akan membutuhkan dekarbonisasi total pembangkit listrik dan perluasan penggunaan daya sekitar 15.000 terawatt-jam pada 2050.

Tahun lalu kenaikannya mencapai 7.000 terawatt-jam.

Hampir 70% dari pembangkit listrik akan menggunakan energi terbarukan seperti angin dan sinar matahari dengan dukungan fleksibilitas penyimpanan dan jaringan energi.

Sektor industri akan mengalami pengurangan paling signifikan dalam permintaan energi final sebesar 30%, tetapi pada saat yang sama akan terus berkontribusi pada 60% dari permintaan energi final.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top