IEU-CEPA: Ancaman Resesi Uni Eropa Jadi Peluang bagi Indonesia

Posisi Uni Eropa yang sedang berada di jurang resesi, bisa menjadi peluang bagi Indonesia untuk mempercepat dan memanfaatkan potensi yang tersedia dari Indonesia-Uni Eropa Comprehensive Economic Partnership (IEU-CEPA).
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 12 November 2019  |  13:44 WIB
IEU-CEPA: Ancaman Resesi Uni Eropa Jadi Peluang bagi Indonesia
Komisi Uni Eropa. - europa

Bisnis.com, JAKARTA - Posisi Uni Eropa yang sedang berada di jurang resesi, bisa menjadi peluang bagi Indonesia untuk mempercepat dan memanfaatkan potensi yang tersedia dari Indonesia-Uni Eropa Comprehensive Economic Partnership (IEU-CEPA).

Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Benny Soetrisno mengatakan ancaman resesi dan deindustrialisasi di Uni Eropa (UE) justru bisa mendatangkan keuntungan bagi Indonesia. Pasalnya, perusahaan UE akan berupaya mencari negara-negara mitra yang potensial sebagai destinasi relokasi bisnisnya.

“Di satu sisi, ancaman resesi di UE ini membuat perundingan IEU-CEPA menjadi lebih menantang. Sebab, secara jangka pendek jaminan potensi pasar produk ekspor kita juga akan menyusut di UE. Namun di sisi lain, peluang lebih besar datang dari potensi peralihan investasi dari UE, karena ekonomi mereka sedang melambat,” katanya, ketika dihubungi Bisnis.com, Senin (11/11/3019).

Untuk itu dia menilai, IEU-CEPA akan tetap menjadi pakta kerja sama ekonomi komprehensif yang penting bagi Indonesia. Dia pun mendesak pemerintah Indonesia segera menuntaskan perundingan IEU-CEPA dalam waktu dekat.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani mengakui kondisi UE yang terancam resesi di beberapa negara anggotanya, akan membuat perundingan IEU-CEPA menjadi lebih kompleks. Dia menilai, terdapat potensi UE akan meminta sejumlah kesepakatan yang lebih besar dan agresif untuk mengamankan pasar ekspor bagi industri dalam negerinya.

“Kecederungannya UE akan lebih agresif meminta liberalisasi produk yang dikerja samakan. Target liberalisasinya jauh lebih tinggi dibandingkan perjanjian dagang lain yang kita miliki. Di sisi lain, mereka juga akan memberikan syarat yang lebih ketat kepada produk kita supaya bisa masuk ke kawasan mereka,” ujarnya.

Namun demikian, dia menilai Indonesia bisa mengambil efek positifnya dari tingginya persyaratan yang diminta oleh UE dalam IEU-CEPA. Pasalnya, tingginya persyaratan untuk melakukan ekspor ke UE secara tidak langsung akan membuat produk Indonesia dipaksa meningkatkan daya saingnya.

“Kalau pasar UE saja bisa kita tembus, kecenderungannya kita akan lebih mudah mengakses pasar negara lain. Sebab UE, termasuk memiliki standar ekspor yang paling tinggi dibandingkan negara atau kawasan lain,” katanya.

Di samping itu, dia menilai ancaman resesi yang terjadi di UE akan membuat potensi  arus relokasi industri dari kawasan tersebut menjadi lebih kencang. Menurutnya, Indonesia bisa memanfaatkan kelebihan UE di bidang teknologi tinggi untuk membantu revitalisasi industri di Indonesia.

Di sisi lain, Indonesia bisa memanfaatkan tingginya kebutuhan sumber daya manusia (SDM) perusahaan-perusahaan di Benua Biru, mengingat kawasan tersebut mulai dibebani oleh  menuanya angkatan kerjanya.

Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal mengatakan terdapat kecenderungan UE akan lebih sulit diajak bernegosiasi lantaran masih disibukkan oleh persoalan di dalam negerinya, mulai dari ancaman resesi hingga keluarnya Inggris dari blok tersebut. Di sisi lain, ancaman resesi juga akan membuat potensi pasar ekspor Indonesia ke UE juga berkurang.

“Namun, hal itu kami perkirakan hanya memiliki efek dalam waktu jangka pendek. Secara jangka panjang  kita akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari sisi investasi karena industri mereka sedang mencari negara mitra yang dapat dimanfaatkan untuk melanjutkan ekspansi bisnisnya,” katanya.

Adapun, Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengatakan IEU-CEPA akan menjadi salah satu perjanjian dagang dan ekonomi yang diprioritaskan diselesaikan negosiasinya pada 2020. Menurutnya, IEU-CEPA menjadi perjanjian internasional berskala besar yang diharapkan dapat dimiliki Indonesia setelah Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).

“Kami sadar, IEU-CEPA akan menjadi perundingan yang menantang untuk diselesaikan nantinya, setelah RCEP berhasil kita tuntaskan. Namun, bagaimana pun juga IEU-CEPA harus dituntaskan sesegera mungkin mengingat negara pesaing kita seperti Vietnam sudah lebih dulu memanfaatkan kerja sama dengan EU,” jelasnya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
uni eropa

Editor : Wike Dita Herlinda
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top