Target Pertumbuhan Industri Mamin Tahun Ini Sulit Dicapai

Kemeperin menyatakan pertumbuhan industri makanan dan minuman (mamin) sepanjang Januari—September hanya mencapai 7,9%.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 11 November 2019  |  08:59 WIB
Target Pertumbuhan Industri Mamin Tahun Ini Sulit Dicapai
Pekerja di pabrik pengolahan makanan - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – Pertumbuhan industri makanan dan minuman pada akhir tahun sulit mencapai target 9% lantaran konsumsi konsumen kelas menengah bawah dan bawah yang rendah.

Kementerian Perindustrian (Kemeperin) menyatakan pertumbuhan industri makanan dan minuman (mamin) sepanjang Januari—September hanya tumbuh 7,9%. Kementerian menilai tertahannya pertumbuhan industri mamin pada tahun ini disebabkan oleh rendahnya pertumbuhan pada semester I/2019.

“Pelaku industri menahan investasi pada semester I/2019. Alhasil, pertumbuhan pada semester I/2019 rendah. Walaupun pertumbuhan pada kuartal III/2019 sudah kembali bergairah, tapi pertumbuhan pada saat pilpres [pemilihan presiden] terlalu rendah,” kata Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Abdul Rochim kepada Bisnis, Minggu (10/11/2019).

Rochim berharap agar industri mamin dapat tumbuh 8% secara tahunan. Walaupun target pertumbuhan pada tahun ini turun, Rochim mengatakan pertumbuhan tersebut masih lebih tinggi daripada perumbuhan ekonomi nasional dan manufaktur.

Pihaknya akan menjaga agar pertumbuhan industri main pada tahun depan akan kembali stabil di level 9%. Rochim mengatakan pihaknya akan berusaha untuk menjaga ketersediaan bahan baku agar dapat mencapai pertumbuhan tersebut.

Ketua Umum Gapmmi Adhi S. Lukman mengatakan berharap produksi industri makanan dan minuman (mamin) maksimal dapat tumbuh 8% secara tahunan, lebih rendah dari target sebelumnya yakni sekitar 9%.

“Sampai semester satu pertumbuhan industri mamin 7,4%. Ini melihat perkembangan akhir-akhir ini, terutama pengaruh pasar global. Ekonomi global makin memburuk, makanya [target terkoreksi],” katanya kepada Bisnis.

Seperti diketahui harga komoditas dan mineral sepanjang tahun ini mengalami tekanan. Adhi berujar hal tersebut berpengaruh besar lantaran konsumen kelas menengah bawa dan bawah menggantungkan pendapatan kepada sektor perkebunan dan pertambangan.

Adhi mengatakan konsumen kelas menengah bawah dan bawah mengalokasikan hingga 70% pendapatan untuk kebutuhan mamin. Namun demikian, konsumen kelas menengah atas dan atas hanya mengalokasikan sekitar 30%.

Menurutnya, serapan produk mamin pada konsumen menengah atas dan atas tidak mengalami perubahan. Namun demikian, jumlah konsumsinya tidak bisa dipacu lagi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri mamin

Editor : Galih Kurniawan
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top