Presiden Jokowi, Saatnya Ambil “Keputusan Gila”

Inpres 4/1985 adalah paket deregulasi dan debirokratisasi paling dahsyat-komprehensif-revolusioner sepanjang sejarah. Inilah mungkin satu-satunya keputusan “gila” untuk kemaslahatan Bangsa yang pernah ada.
Syafrizal Dahlan
Syafrizal Dahlan - Bisnis.com 15 Oktober 2019  |  14:42 WIB
Presiden Jokowi, Saatnya Ambil “Keputusan Gila”
Syafrizal Dahlan

PENEGASAN Presiden Jokowi bahwa dia siap mengambil keputusan gila untuk membuat lompatan kemajuan Bangsa ke depan, memunculkan pertanyaan sukar: keputusan gila seperti apa? Pertanyaan sulit lain terkait dengan tekadnya memacu ekspor dan investasi: dengan  cara bagaimana?

Bukankah 16 Paket Kebijakan Ekonomi (PKE) yang sudah diluncurkan terbukti “tidak nendang”? Kini rakyat menantikan tekad dan komitmen itu benar-benar diwujudkan dengan tindakan konkret.

Jawaban paling mengena dari semua itu, tampaknya perlu belajar dari Inpres 4/1985 dan Rachmat Saleh.  Kebijakan dan sosok Menteri Perdagangan era Orde Baru itu rasanya akan menjadi “resep jitu” atau “obat mujarab” penjawab tantangan perode kedua Jokowi. Baik dalam menunaikan komitmen membuat lompatan kemajuan Bangsa, maupun memacu ekspor dan investasi.

Inpres 4/1985 adalah paket deregulasi dan debirokratisasi paling dahsyat-komprehensif-revolusioner sepanjang sejarah. Inilah mungkin satu-satunya keputusan “gila” untuk kemaslahatan Bangsa yang pernah ada.

Karena dieksekusi dan diimplementasikan secara sangat konsisten-konsekuen, beleid yang “diarsiteki” oleh Rachmat Saleh itu sukses besar mendongkrak daya saing, bahkan hampir melipattigakan nilai ekspor dalam Pelita IV, persisnya dari 5,4 milyar dolar pada 1983/1984 menjadi 12,84 milyar dolar tahun 1988/1989.

Sampai di sini, kita bisa menarik dua kesimpulan: pertama, tekad mempercepat laju pembangunan membutuhkan  “keberanian tidak biasa” untuk mengambil “keputusan luar biasa”. Setidaknya kebijakan itu haruslah sekelas Inpres 4/1985. Meminjam pepatah lama, kebijakan biasa –seperti 16 PKE itu-- hanya seperti “kupas-kupas kulit bawang”, padahal yang dibutuhkan adalah “kupas tuntas” model Inpres 4.

Kedua, untuk menghasilkan kebijakan sekelas Inpres 4, para menteri haruslah sekaliber Rachmat Saleh: jujur, nasionalis sejati sekaligus negarawan, cerdas, berani, kepemimpinan kuat, visioner, amanah, adil,  dan di atas semua itu punya integritas nyaris tiada tanding.

***

SIAPA Rachmat Saleh? Mantan Gubernur BI dua periode dan Menperdag ini adalah legenda perbankan dan perdagangan. Selain sukses mengantarkan BI menjadi bank sentral berkelas dunia, dia juga berhasil “menyulap” Perdagangan menjadi instansi berwibawa. 

Seluruh kebijakan yang dia buat, sungguh sangat aplikatif dan visioner, sehingga bisa menjadi solusi jitu bagi banyak persoalan Bangsa ke depan. Pada semua lahan pengabdiannya dia mengukir banyak legacy luar biasa, yakni warisan berupa karya besar bermanfaat besar yang melegenda. 

Namun yang paling legendaris adalah integritas dan kejujurannya. Meminjam istilah taipan Ciputra dan Mochtar Riady serta “raja minyak” Arifin Panigoro: “integritas Rachmat Saleh di atas rata-rata orang Indonesia”. Integritas pribadinya nyaris tanpa noda. Oleh-oleh atau hadiah sekecil apa pun pasti ditampiknya dengan sikap berang.

Salah satu pegangan hidupnya adalah Sumpah Jabatan. Persahabatan pun akan dia korbankan apabila bisa mencederai sumpah itu, utamanya “bersumpah (Demi Allah) tidak akan memberi atau menerima apa pun dari siapa pun (terkait jabatan)”. Dan dia teramat istiqamah (konsisten) mengamalkannya dan selalu mengingatkannya kepada semua bawahan.

Saking konsistennya, bahkan saat-saat mendekati sakaratul maut pun –wafat 11 Februari 2018 dalam usia hampir 88 tahun-- dia masih berbicara Sumpah Jabatan secara eksplisit. Persisnya ketika kerabat dan sahabat berencana membawa dia berobat ke Singapura setelah sakitnya makin parah.

Karena mengira biaya untuk  itu atas tanggungan BI, langsung ditolaknya. Alasannya: sebagai pensiunan BI dia tidak berhak lagi dibiayai uang rakyat. Ketika dijelaskan bahwa itu atas biaya YKK-BI dan semua pensiunan Bank Sentral berhak mendapatkannya, dia masih mewanti-wanti petinggi BI: Sumpah Jabatan jangan sampai dilanggar hanya karena mau membantu dirinya berobat ke Singapura.  

Senantiasa bersikap konsisten dengan Sumpah Jabatan itulah yang membuat dirinya mudah menjauh dari “sindrom birahi tiga ta”: harta-tahta-wanita. Karena itu, lebih 30 tahun memimpin  “instansi basah kuyup” sama sekali tidak menghasilkan warisan berupa rumah mewah dan mobil mewah berderet-deret.

Juga tidak punya deposito belasan digit atau saham di sana-sini. Almarhum hanya mewariskan untuk empat anak dan isterinya  sebuah rumah sederhana di atas sebidang tanah di Cilandak, pinggiran selatan Jakarta. Bukan di kawasan elite Menteng, Patra Kuningan, atau Pondok Indah. Warisan untuk keluarga yang berupa kendaraan: bukan Mercy atau Alphard, tapi hanya hanya satu unit minibus Isuzu Panther keluaran tahun 2000.

Keberadaan Rachmat Saleh dengan kejujuran dan kesederhanaannya itu seolah menjadi pembenaran bahwa memang ada “pejabat setengah dewa”. Tokoh seperti ini terbilang langka, terlebih saat Negeri ini berada dalam keadaan “darurat integritas”. Kondisi demikian membutuhkan kehadiran panutan kejujuran.

Kinilah saatnya figur dengan integritas tiada banding ini dinobatkan menjadi “ikon kejujuran nasional”. Mungkin inilah pula waktunya untuk mengangkatnya menjadi pahlawan kejujuran nasional. Apalagi dia bukan hanya teramat jujur dan terlalu tinggi integritasnya, tapi juga memiliki andil besar bagi kemajuan Bangsa ini.

***

Mari kita lihat dahsyatnya Inpres 4. Sebelum ada beleid ini, pelabuhan benar-benar menjadi “sarang penyamun dan begal”. Tidak bayar, tiada layanan. Akibatnya, kongesti tak terhindarkan. Dwelling time makan waktu berpuluh hari. Pada semua tahapan pergerakan barang ada “biaya ekstra”. “Ongkos logistik” pun membubung sampai hampir 50  persen dari biaya produksi.

Berbagai upaya pernah ditempuh untuk mengatasi karut marut pelabuhan, mulai menerjunkan Tim “Walisongo” sampai Tim Opstib. Hasilnya, tidak ubahnya “kupas-kupas kulit bawang”: hilang-timbul.

Hebatnya, dalam tempo singkat Inpres 4 sukses besar mencincang habis segala bentuk ketidakberesan dan karut marut itu. “Keputusan gila” bernama Inpres 4 itu berhasil melejitkan nilai ekspor nonmigas dan investasi.

Tinggal sekarang kita nantikan kehadiran “Rachmat Saleh” lainnya dan “Inpres 4” berikutnya. (*)

  • Syafrizal Dahlan adalah Wartawan Senior, Penulis Biografi Rachmat Saleh

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jokowi

Editor : News Editor
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top