Nilai Ekspor Turun Akibat Penurunan Harga Komoditas

Kepala Badan Pusat Statistik Kecuk Suhariyanto menyatakan, secara umum harga komoditas ini masih mengalami fluktuasi. Misalnya, harga minyak mentah atau ICP Agustus 2019, masih US$57,27 per barel, naik jadi US$60,84 per barel.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 15 Oktober 2019  |  13:23 WIB
Nilai Ekspor Turun Akibat Penurunan Harga Komoditas
Aktivitas perdagangan di pelabuhan - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Badan Pusat Statistik menyatakan penurunan nilai ekspor September 2019 sebesar 1,29% dibandingkan dengan Agustus 2019 disebabkan oleh penurunan harga komoditas andalan, salah satunya harga minyak sawit.

Kepala Badan Pusat Statistik Kecuk Suhariyanto menyatakan, secara umum harga komoditas ini masih mengalami fluktuasi. Misalnya, harga minyak mentah atau ICP Agustus 2019, masih US$57,27 per barel, naik jadi US$60,84 per barel.

Sementara itu komoditas nonmigas ada yang melonjak juga harga nikel, perak, coklat, seng, timah, tembaga, aluminium, dan emas. Adapun harga batu bara hanya terkerek naik sangat sedikit bulan lalu.

“Beberapa komoditas nonmigas yang mengalami penurunan harga secara [mtm] itu minyak sawit dan minyak kernel,” ujar Suhariyanto di BPS, Selasa (15/10/2019).

Berdasarkan data BPS, bahwa ekspor crude palm oil (CPO), total harga pada September 2018 tercatat US$381,3 juta, dan pada September 2019 turun 10,79% menjadi US$340,2 juta. Sementara itu total harga untuk ekspor CPO pada Agustus 2019 tercatat US$260,86 juta naik 30,41% dari harga total ekspor CPO pada September 2019.

Secara kumulatif, total harga ekspor CPO dari Januari-September 2019 adalah US$2,42 miliar, naik 0,52% dibandingkan dengan total ekspor CPO kumulatif Januari-September 2018 sebesar US$2,41 miliar.

Sementara itu, untuk nilai ekspor CPO dan turunannya pada September 2019 tercatat US$1,30 miliar, naik 12,99% dari Agustus 2019 sebesar US$1,15 miliar. Jika dibandingkan dengan September 2018, harga total ekspor CPO dan turunannya ini turun sebesar 12,88%, yang mana pada September 2018 tercatat US$1,49 miliar.

Adapun secara kumulatif total harga ekspor CPO dan turunannya pada Januari-September 2019 tercatat US$10,32 miliar, atau turun 16,59% jika dibandingkan dengan akumulasi Januari-September 2018 untuk total harga ekspor CPO dan turunannya yang mencapai US$12,38 miliar.

Suhariyanto memerinci, dari segi volume, ekspor Indonesia pada September 2019 secara keseluruhan ada peningkatan sebesar 4,27% dibandingkan dengan Agustus 2019. Peningkatan ini disebabkan oleh kenaikan volume ekspor non migas 4,64%. Sementara itu, volume ekspor migas turun 4,71%.

Dia menyebut, dibandingkan dengan September 2018, volume total ekspor meningkat 8,53% dan nonmigas naik 10,18%, sedangkan migas turun 22,67%. Dia menyatakan, volume ekspor migas September 2019 dibandingkan dengan Agustus 2019 untuk minyak mentah dan gas turun 30,54% dan 9,56%.

BPS masih mencatat bahwa ekspor hasil minyak masih naik 34,41%. Oleh sebab itu secara kumulatif, volume ekspor masih meningkat 7,57% dibandingkan dengan periode Januari-September 2018, berkat ekspor nonmigas naik 9,90%.

Meski demikian, nilai ekspor September 2019 tercatat US$14,09 miliar masih turun dari Agustus sebesar US$14,28 miliar. Dia memerinci ekspor migas tercatat menurun akibat penurunan ekspor minyak mentah 33,65% menjadi US$94,7 juta. Sementara itu, ekspor gas tercatat turun 11.04% menjadi US$505,8 juta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Neraca Perdagangan

Editor : Achmad Aris
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top