Kaya Bahan Baku, Indonesia Perlu Akselerasi Teknologi Produksi Obat

Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas nomor dua terbesar di dunia yang dapat dimanfaatkan menjadi bahan baku obat dan pangan.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 09 Oktober 2019  |  14:06 WIB
Kaya Bahan Baku, Indonesia Perlu Akselerasi Teknologi Produksi Obat
Penelitian obat tradisional-ilustrasi. - ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyatakan Indonesia memerlukan akselerasi teknologi untuk mengembangkan bahan baku obat serta memproduksi obat.

Pasalnya, Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas nomor dua terbesar di dunia yang dapat dimanfaatkan menjadi bahan baku obat dan pangan.

Deputi Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Soni Solistia Wirawan mengatakan bahan baku obat tersebut tersimpan dalam kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia yang harus ditemukan, diidentifikasi, dan diolah.

Pihaknya mendorong terciptanya penelitian kolaboratif dan penguatan pendanaan pengembangan obat karena setidaknya dibutuhkan 10 tahun-15 tahun untuk mengembangkan dan menghasilkan obat.

Saat ini Indonesia masih mengimpor lebih dari 95 persen bahan baku obat termasuk obat generik. Padahal menurutnya, Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia dapat menjadi pasar yang besar untuk kebutuhan obat.

Dia mengatakan BPPT sendiri terus mendorong penguatan ekosistem pengembangan obat untuk meningkatkan kemampuan Indonesia dalam mengembangkan dan memproduksi obat. Salah satunya dilakukan melalui kegiatan The 2nd International Symposium on Natural Resources-based Drug Development yang digelar di Jakarta, Rabu (9/10/2019).

"Saya berharap melalui simposium ini dapat saling berbagi informasi ilmiah dan menghasilkan strategi untuk pengembangan obat di Indonesia," kata Soni.

Simposium internasional yang diselenggarakan BPPT bersama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) itu merupakan bagian dari pelaksanaan kerja sama penelitian antara institusi Jepang dan Indonesia dalam kerangka Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development (Satreps).

Melalui simposium tersebut, diharapkan pemangku kepentingan dalam pengembangan obat di Indonesia dapat saling bertukar informasi, memaparkan hasil riset dan kebijakan terkait, memperkuat jaringan dan kolaborasi dalam mempercepat pengembangan bahan baku obat.

Menurut Soni, jaringan kuat antar peneliti merupakan kunci keberhasilan pengembangan obat, disertai kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan industri yang menjadi ujung tombak diseminasi hasil inovasi ke masyarakat luas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Industri Obat

Sumber : Antara

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top