BI : Deflasi September Didorong oleh Volatile Food

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Onny Widjanarko menyatakan, deflasi IHK terutama didorong deflasi kelompok volatile food dan penurunan inflasi inti, di tengah kenaikan inflasi kelompok administered prices.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 03 Oktober 2019  |  07:08 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia menyatakan, Indeks Harga Konsumen (IHK) bulanan mengalami deflasi pada September 2019, dengan total deflasi IHK tercatat sebesar 0,27% (mtm), berbeda dibandingkan dengan perkembangan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi 0,12% (mtm).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Onny Widjanarko menyatakan, deflasi IHK terutama didorong deflasi kelompok volatile food dan penurunan inflasi inti, di tengah kenaikan inflasi kelompok administered prices.

Dengan perkembangan tersebut, sampai dengan bulan September 2019, inflasi IHK 2019 mencapai 2,20% (ytd), atau secara tahunan tercatat 3,39% (yoy), menurun dibandingkan dengan inflasi Agustus 2019 sebesar 3,49% (yoy).

“Ke depan, Bank Indonesia tetap konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, guna memastikan terkendalinya inflasi,” kata Onny, Rabu (2/10/2019).

Dia menyatakan, dari komponen IHK, harga kelompok volatile food kembali mengalami deflasi sebesar 2,26% (mtm), lebih dalam dibandingkan dengan deflasi pada bulan sebelumnya sebesar 0,25% (mtm).

Deflasi pada kelompok volatile food terutama dipengaruhi oleh penurunan harga pada komoditas aneka cabai, aneka bawang, daging ayam ras, telur ayam ras, ikan segar, dan sayur-sayuran.

Sementara itu, komoditas beras mengalami inflasi yang tetap terkendali. Secara tahunan, inflasi kelompok volatile food tercatat sebesar 5,49% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 5,96% (yoy).

Onny memerinci, inflasi inti melambat sehingga turut menopang terkendalinya inflasi IHK dalam sasarannya. Inflasi inti tercatat sebesar 0,29% (mtm), lebih rendah dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,43% (mtm).

Penurunan inflasi inti dipengaruhi melambatnya beberapa komoditas utama penyumbang inflasi inti seperti emas perhiasan, jasa pendidikan, dan tarif sewa rumah.

Secara tahunan, inflasi inti tercatat sebesar 3,32% (yoy), stabil dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 3,30% (yoy).

Onny menyatakan, inflasi inti yang terkendali tidak terlepas dari ekspektasi inflasi yang baik seiring dengan konsistensi kebijakan Bank Indonesia menjaga stabilitas harga, permintaan agregat yang terkelola baik, nilai tukar yang bergerak sesuai dengan fundamentalnya, dan pengaruh harga global yang minimal.

Kelompok administered prices mengalami inflasi yang rendah. Pada September 2019, inflasi administered prices tercatat sebesar 0,01% (mtm), setelah pada bulan sebelumnya mengalami deflasi sebesar 0,40% (mtm).

Inflasi disumbang oleh kenaikan harga komoditas rokok sedangkan tarif angkutan udara kembali mencatat deflasi seiring pola musiman penurunan permintaan.

Secara tahunan, kelompok administered prices mencatat inflasi sebesar 1,88% (yoy), stabil dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 1,87% (yoy).

Onny menyatakan, inflasi 2019 diprakirakan berada di bawah titik tengah kisaran sasarannya 3,5%±1% dan terjaga dalam kisaran sasaran 3,0%±1% pada 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Inflasi

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top