Investasi Sektor Keuangan Memerlukan Penguatan

Berdasarkan data dari Bank Indonesia, Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia mengalami peningkatan kewajiban neto, didorong terutama oleh peningkatan posisi Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN).
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 30 September 2019  |  17:01 WIB
Investasi Sektor Keuangan Memerlukan Penguatan
Karyawan melintas di dekat logo Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Senin (25/2/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Geliat investasi di Indonesia tercermin dari Posisi Investasi Internasional Indonesia yang masih memerlukan penguatan khususnya dalam sektor pasar modal.

Berdasarkan data dari Bank Indonesia, Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia mengalami peningkatan kewajiban neto, didorong terutama oleh peningkatan posisi Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN).

PII Indonesia pada akhir kuartal II/2019 mencatat kewajiban neto sebesar US$330,3 miliar atau 31,0% terhadap PDB, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan posisi kewajiban neto pada akhir kuartal sebelumnya sebesar US$329,2 miliar atau 31,3% terhadap PDB.

Adapun peningkatan kewajiban neto PII Indonesia tersebut sejalan dengan peningkatan posisi KFLN yang sedikit lebih besar dibandingkan dengan peningkatan posisi Aset Finansial Luar Negeri (AFLN). Posisi KFLN Indonesia meningkat terutama didorong oleh besarnya aliran masuk modal asing dalam bentuk investasi portofolio.

Hal tersebut didukung oleh prospek perekonomian domestik yang baik dan imbal hasil investasi aset keuangan domestik yang diklaim tetap menarik. Posisi KFLN naik 0,4% (qtq) atau sebesar US$2,9 miliar menjadi US$691,2 miliar pada akhir kuartal II/2019.

Peningkatan posisi KFLN juga dipengaruhi oleh faktor pelemahan dolar AS terhadap Rupiah yang berdampak pada peningkatan nilai instrumen investasi berdenominasi rupiah.

Meskipun demikian, peningkatan posisi KFLN lebih lanjut tertahan oleh faktor revaluasi negatif instrumen finansial domestik sejalan dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama triwulan laporan. Posisi AFLN Indonesia juga meningkat terutama didorong oleh transaksi perolehan AFLN dalam bentuk aset investasi langsung dan investasi lainnya.

Ekonom Bank Danamon Wisnu Wardana mengatakan, perekonomian Indonesia tahun ini sampai tahun depan membutuhkan stabilitas untuk bisa menarik kepercayaan investor. Hal ini terutama karena pemerintah menggenjot investasi yang paling banyak bertumpu pada pembangunan melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan sektor keuangan yakni perbankan dan pasar modal.

“BUMN memang memberi hasil dividen, namun itu belum meningkat signifikan. Sektor keuangan juga sama, pemerintah ingin kredit tumbuh dua digit sementara agregat demand di capital market tahun ini belum tumbuh signifikan,” ujar Wisnu, Senin (30/9/2019).

Dia menilai, untuk mendorong kinerja BUMN, pemerintah perlu memberi injeksi lebih dalam pembiayaan modal bagi BUMN. Sementara itu untuk pasar modal, perlu stabilitas politik dan ekonomi.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menyatakan dalam kondisi global yang tak terlalu menguntungkan bagi Indonesia, masih ada harapan investasi bagi Indonesia dalam jangka pendek dari investasi portofolio.

Meskipun investasi jenis ini cenderung easy come and easy go, investasi jenis ini sebenarnya masih bisa memberi harapan, setidaknya untuk menambal defisit dalam neraca pembayaran Indonesia (NPI). Oleh sebab itu, salah satu langkah utama menjaga kepercayaan investor portofolio adalah memberi optimisme dan stabilitas di pasar.

"Kita masih bisa tumbuh saat ekonomi global melambat, bukan resesi. Karena Indonesia adalah emerging market," kata Andry.

Masih dari data PII Bank Indonesia, pada akhir kuartal II/2019, posisi AFLN tumbuh 0,5% (qtq) atau sebesar US$1,9 miliar menjadi US$361,0 miliar. Posisi AFLN yang meningkat juga dipengaruhi oleh kenaikan harga obligasi dan rerata indeks saham negara-negara penempatan AFLN serta faktor pelemahan dolar AS terhadap beberapa mata uang utama penempatan investasi.

Bank Indonesia memandang perkembangan PII Indonesia pada kuartal II/2019 masih tetap sehat. Hal ini tercermin dari struktur kewajiban neto PII Indonesia yang masih didominasi oleh instrumen berjangka panjang. Meski demikian, Bank Indonesia akan tetap mewaspadai risiko kewajiban neto PII terhadap perekonomian Indonesia.

Ke depan, kinerja PII Indonesia diperkirakan semakin baik sejalan dengan stabilitas ekonomi yang terjaga, didukung oleh penguatan koordinasi antara Bank Indonesia dengan Pemerintah dan otoritas. Terutama terkait mendorong momentum pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan permintaan domestik, ekspor, pariwisata, dan aliran masuk modal asing termasuk Penanaman Modal Asing (PMA).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
investasi

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top