Daerah Diharapkan Terlibat Pendataan Populasi Ayam, Ini Tujuannya

Muladno menilai perhitungan populasi secara terpusat yang didasari potensi produksi bibit ayam galur murni (grandparent stock/GPS) yang saat ini diterapkan berpotensi menghasilkan data yang kurang akurat. Hal inilah yang menyebabkan permasalahan pasokan dan kebutuhan ayam tak kunjung usai.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 25 September 2019  |  21:59 WIB
Daerah Diharapkan Terlibat Pendataan Populasi Ayam, Ini Tujuannya
Ayam. - Berdikari

Bisnis.com, JAKARTA - Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor Muladno Bashar mengusulkan adanya sistem pendataan populasi ayam berjenjang agar data produksi yang tersaji jelas dengan akurasi yang tepat.

Muladno menilai perhitungan populasi secara terpusat yang didasari potensi produksi bibit ayam galur murni (grandparent stock/GPS) yang saat ini diterapkan berpotensi menghasilkan data yang kurang akurat. Hal inilah yang menyebabkan permasalahan pasokan dan kebutuhan ayam tak kunjung usai.

"Urusan GPS, PS [parent stock], dan FS [final stock] itu ditangani pusat semua. Jadi provinsi dan kabupaten itu tidak tahu. Tidak ada kewenangan, tidak ada anggaran untuk ikut campur, hampir tidak ada. Sehingga yang bekerja hanya Ditjen Peternakan dan data yang digunakan hanya data ayam GPS saja," ujar Muladno saat dihubungi Bisnis, Rabu (25/9/2019).

Ia mengemukakan kemampuan produksi GPS sangat bervariasi, tergantung strain masing-masing. Muladno berpendapat perhitungan ayam galur murni yang diimpor dengan volume berkisar 700.000 ekor setiap tahunnya harusnya berada di pusat. Sementara untuk ayam bibit PS dan ayam pedaging siap potong kualitas FS, masing-masing dipegang oleh pemerintah tingkat provinsi dan kabupaten.

Dengan metode ini, Muladno menyebutkan jumlah populasi ayam pedaging yang siap dipasarkan menjadi lebih bisa diprediksi. Data ini pun dapat menjadi landasan dalam melihat pasokan dan kebutuhan.

Keseimbangan suplai dan permintaan ayam pedaging, sebagaimana diatur dalam Pasal 5 Permentan Nomor 32 Tahun 2017, dihitung dan dianalisis oleh Tim Analisis Penyediaan dan Kebutuhan Ayam Ras dan Telur Konsumsi. Hasil perhitungan ini dan analisis ini digunakan pula sebagai bahan pertimbangan dalam penetapan rencana produksi nasional.

Di sisi lain, Ditjen PKH pun membuka platform bagi pelaku usaha pembibitan unggas untuk melaporkan populasi ayam yang dikembangkan secara daring lewat laman Sistem Perunggasan Nasional. Mengutip data per Agustus 2019, tercatat terdapat 14 perusahaan GPS broiler dan 49 perusahaan PS broiler.

Populasi GPS broiler sampai Agustus tercatat berjumlah 958.784 ekor, sementara PS broiler berjumlah 33,87 juta ekor secara nasional dengan sebaran terbesar di Jawa Barat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
peternak ayam

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top