Memasuki Kuartal III/2019, Industri Manufaktur Mulai Tertekan

Dengan ini, Kementerian Keuangan pun memproyeksikan realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir tahun ini akan mencapai 5,08% (yoy).
Muhamad Wildan
Muhamad Wildan - Bisnis.com 25 September 2019  |  18:34 WIB
Memasuki Kuartal III/2019, Industri Manufaktur Mulai Tertekan
Pekerja menyelesaikan pembuatan mobil Mitsubishi Xpander di pabrik Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia (MMKI) Cikarang, Jawa Barat, Selasa (3/10). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - Gejolak perekonomian global pada akhirnya berpengaruh kepada perekonomian domestik terutama di sektor industri manufaktur.

Kementerian Keuangan pun memproyeksikan realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir tahun ini akan mencapai 5,08 persen (yoy).

Sebelumnya, purchasing manager index (PMI) per Juli dan Agustus 2019 sudah mulai menurun di bawah angka 50 yakni masing-masing di angka 49,6 dan 49.

Selain itu, impor bahan baku dan penolong per Agustus 2019 mengalami kontraksi sebesar 18,06 persen (yoy) dengan realisasi sebesar US$10,35 miliar.

Pada Juli 2019, impor bahan baku dan penolong juga nampak terkontraksi sebesar 17,76 persen (yoy) dengan nilai impor mencapai US$11,27 miliar. Meski demikian, perlu dicatat bahwa realisasi impor bahan baku dan penolong masih tercatat tumbuh 29,01 persen (mtm) dibandingkan dengan Juni 2019.

Secara kumulatif hingga Agustus 2019, impor baku dan penolong tercatat mencapai US$83,21 miliar menurun dibandingkan dengan realisasi impor bahan baku dan penolong secara kumulatif pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$93,18 miliar.

Alhasil, secara kumulatif hingga Agustus 2019 impor bahan baku dan penolong mengalami kontraksi sebesar 10,7 persen (yoy).

Sebelumnya, pemerintah sempat mengatakan bahwa kedua hal ini belum menunjukkan adanya indikasi perlambatan dari sektor industri manufaktur.

Terbaru, penerimaan pajak dari sektor manufaktur yang kontribusinya mencapai 28,9 persen terhadap penerimaan justru terkontraksi sebesar 4,8 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Industri manufaktur hingga Agustus 2019 menyumbang penerimaan perpajakan sebesar Rp215,58 triliun. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, sektor ini berhasil tumbuh 13,4 persen.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Suahasil Nazara menerangkan bahwa perlambatan perdagangan dunia menyebabkan permintaan barang dari Indonesia menurun sehingga menekan kinerja ekspor.

Hal ini pada akhirnya berdampak pada pendapatan perusahaan sehingga perusahaan pun mengurangi impor atas barang input.

Pada akhirnya, banyak sektor perekonomian termasuk industri manufaktur tidak mampu membayarkan pajak sebesar yang dibayarkan pada tahun sebelumnya.

"Faktor global ini mulai masuk ke perekonomian kita dampaknya," ujar Suahasil, Rabu (25/9/2019).

Untuk diketahui, kontribusi sektor industri manufaktur terhadap PDB per kuartal II/2019 mencapai 19,52 persen, menurun dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 19,8 persen.

Pertumbuhan dari industri manufaktur per kuartal II/2019 juga melambat. Per kuartal II/2019, sektor industri manufaktur tumbu 3,54 (yoy), lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 3,88 (yoy).

Kontribusi serta pertumbuhan industri manufaktur per kuartal II/2019 juga lebih rendah dibandingkan dengan kuartal I/2019. Per kuartal I/2019, industri manufaktur berkontribusi sebesar 20,07 persen terhadap PDB dengan pertumbuhan mencapai 3,86 persen (yoy).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
manufaktur, Pertumbuhan Ekonomi

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top