Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Industri Kimia Dasar Indonesia Butuh Investasi Baru

Penyelesaian masalah gagal bayar PT Tuban Petrochemical Industries (Tuban Petro) menjadi titik balik bagi industri kimia nasional.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 16 September 2019  |  09:21 WIB
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan pabrik Polyethylene (PE) baru berkapasitas 400.000 ton per tahun di kompleks petrokimia terpadu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), Cilegon, Banten, Selasa, (18/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan pabrik Polyethylene (PE) baru berkapasitas 400.000 ton per tahun di kompleks petrokimia terpadu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), Cilegon, Banten, Selasa, (18/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA – Penyelesaian masalah gagal bayar PT Tuban Petrochemical Industries (Tuban Petro) dinilai menjadi titik balik bagi industri kimia nasional. Penyelesaian tersebut merupakan satu dari banyak langkah harus diambil dalam meningkatkan daya saing industri nasional.

Asosiasi Industri Aromatik, Olefin, dan Plastik Indonesia (Inaplas) memprediksi penyelesaian utang Tuban Petro memiliki potensi produksi benzene, toluene, dan xylene (BTX) sejumlah 1,2 juta ton per tahun. Adapun, bahan baku bagi industri kimia dasar tersebut akan diproduksi oleh nak perusahaan Tuban Petro yakni PT Trans Pacific Petrochemchal Indotama (TPPI).

Adapun, PT Chandra Asri Petrochemichal Tbk. (CAP) menyatakan juga akan membangun kilang BTX setelah pabrik CAP II rampung pada 2024. Hal tersebut dilakukan mengingat kapasitas produksi pygas perseroan yang menjadi bahan baku pembuatan BTX akan mencapai 800.000 ton per tahun saat CAP II mulai berproduksi.

“Kapasitas [produksi pygas] 800.000 ton itu sudah efisien. Skala keekonomiannya sudah terpenuhi, tapi tetap saja masih kurang [bagi industri hilir saat CAP II berproduksi],” ujar Vice President Corporate Affairs CAP Suhat Miyarso kepada Bisnis pekan lalu.

Jika dijumlah, kapasitas produksi BTX akan mencapai 2 juta ton per tahun hasil produksi TPPI dan kilang yang akan dibangun oleh CAP. Suhat menjelaskan kebutuhan benzene dan paraxylene di dalam negeri saat ini masih bergantung pada impor. Paraxylene produk komersial yang didapatkan dari hasil isomerisasi xylene.

Suhat mencatat perseroan masih mengimpor 50% dari total kebutuhan benzene dalam memproduksi polyprophylene (PP) dan polyethylene (PE). Adapun, permintaan paraxylene di dalam negeri saat ini mencapai 750.000 ton per tahun, sedangkan kapasitas produksi lokal maksimal hanya mencapai 300.000 ton.

Meskipun dengan prediksi pertumbuhan permintaan yang konservatif per tahunnya di kisaran 5%, Suhat mengatakan masih perlu investasi tambahan untuk memasok BTX ke industri tengah dan hilir nasional. Pihaknya meminta agar pemerintah memperbaiki sistem administrasi, kepastian hukum, dan peraturan ketenagakerjaan di dalam negeri untuk mengundang investasi.

“Kalaupun ada produksi yang surplus, kemungkinan toluene. Tapi,harus diingat toluene itu hanya 2% dari produksi BTX plant. Kami hanya menyambut baik TPPI segera jalan dan Chandra Asri segera membangun BTX plant,” katanya.

Regulasi pendukung bagi konversi utang menjadi saham dalam upaya revitalisasi pusat industri aromatik di Tuban dipastikan bakal segera diteken pemerintah.

Direktur Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Isa Rachmatarwata mengatakan bahwa langkah pemerintah untuk mengoptimalkan aset Tuban Petrochemical Industries guna mendukung pengembangan industri petrokimia nasional tidak berubah.

Rencana untuk mengkonversi utang TPI menjadi saham milik pemerintah pun dipastikan terus berlanjut. Jika sebelumnya kepemilikan pemerintah atas TPI mencapai 70%, maka dengan proses restrukturisasi utang dengan dipayungi oleh peraturan pemerintah tersebut, porsi saham negara meningkat hingga 95,9%.

"Segera akan ditetapkan PP-nya. Dalam waktu dekat," ujarnya pekan lalu.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

petrokimia
Editor : Galih Kurniawan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top