Krisis 1998 Berdampak Struktural pada SDM

Krisis 1998 memberi dampak struktural terhadap kualitas sumber daya manusia.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 28 Agustus 2019  |  14:48 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Krisis 1998 memberi dampak struktural terhadap kualitas sumber daya manusia.

Berdasarkan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2020-2024, sejak reformasi 1998 Indonesia belum mampu menggerakkan transformasi sosial-ekonomi akibat krisis. Alhasil pertumbuhan ekonomi potensial Indonesia terus menurun setelah pernah mencapai 6,00% pada periode 1990 sampai 2000, lalu menjadi kisaran 5,0% pada 2000-2015.

"Terbatasnya kesempatan kerja di dalam negeri menjadikan pangsa pasar kerja luar negeri sebagai alternatif bagi calon pekerja migran Indonesia," tulis dokumen itu yang dikutip Bisnis.com, Rabu (28/8/2019).

Sayangnya, sebagian besar lapangan kerja yang diisi adalah pekerjaan dengan kualifikasi atau keahlian rendah.

Masalah produktivitas pascakrisis 1998 ini karena tenaga kerja Indonesia masih didominasi oleh lulusan sekolah dasar. Sementara itu, tidak semua tenaga kerja lulusan pendidikan lebih tinggi memiliki kesiapan dan kapasitas sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Adapun peningkatan PDB sektor jasa menunjukkan adanya transisi sumber pertumbuhan dari primer ke tersier. Namun transisi ekonomi tersebut belum mampu mendorong pertumbuhan menjadi lebih tinggi.

Sektor jasa yang menyerap perpindahan tenaga kerja dari sektor primer di dominasi oleh sektor jasa informasi dengan kontribusi pertumbuhan yang rendah.

Di lain pihak, sektor industri pengolahan yang menarik potensi terbesar untuk mendorong pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja formal. Selain itu sektor ini juga masih menghadapi tantangan kenaikan upah tenaga kerja yang belum diikuti dengan peningkatan produktivitas setara.

Hal ini diperkuat dengan konstribusi PDB industri pengolahan menurun menjadi 19,9%. Pada sisi lain, kontribusi sektor primer sebesar 20,9%, dan kontribusi sektor jasa terus meningkat menjadi 59,2% pada 2018.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
krisis ekonomi

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top