Efek Ibu Kota Pindah ke Kalimantan Timur

Pola mudik dipastikan berubah mengikuti pemindahan Ibu Kota dari Jakarta ke Kalimantan Timur (Kaltim), kata Pengamat Transportasi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang Djoko Setijowarno.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 26 Agustus 2019  |  18:33 WIB
Efek Ibu Kota Pindah ke Kalimantan Timur
Pakar Transportasi Universitas Katolik (Unika) Sugijapranata Semarang Djoko Setijowarno saat memberikan keterangan kepada wartawan - Antara

Binis.com, JAKARTA - Pola mudik dipastikan berubah mengikuti pemindahan Ibu Kota dari Jakarta ke Kalimantan Timur (Kaltim), kata Pengamat Transportasi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang Djoko Setijowarno.

“Pola mudik Lebaran mestinya berubah,” kata Djoko di Jakarta, Senin (26/8/2019).

Djoko menjelaskan perubahan tersebut mulai dari jenis moda transportasi yang selama ini didominasi angkutan darat, maka diperkirakan akan bergeser ke angkutan laut.

Angkutan laut dinilai meningkat apabila Ibu Kota berpindah karena merupakan moda yang dipilih para perantau selain angkutan udara.

Sementara itu, lanjut dia, angkutan udara saat ini tengah mengalami polemik harga tiket yang masih mahal.

Djoko menambahkan pergerakan di Bandara Internasional Seokarno-Hatta akan berkurang drastis sebesar 50 persen mengingat, menurut dia, penumpang paling banyak dengan tujuan perjalanan dinas.

“Sebagian besar orang ke Jakarta itu karena perjalanan dinas, sehingga dampaknya juga nanti pengunjung hotel akan berkurang,” katanya.

Namun, Djoko memproyeksikan imbasnya, yakni tol Trans Jawa akan sepi.

“Pasti akan dampaknya tol menurun, Jakarta-Cikampek pasti berpengaruh,” ujarnya.

Presiden Joko Widodo secara resmi mengumumkan rencana pemindahan Ibu Kota ke Kalimantan Timur pada Senin (26/8/2019).

Lokasi tersebut, tepatnya di sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kartanaegara Provinsi Kalimantan Timur

Menurut Presiden, lokasi tersebut merupakan lokasi yang paling ideal untuk ibu kota yang baru karena telah melalui dua kajian, yakni struktur tanah dan dampak ekonomi.

Berdasarkan data Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan, jumlah penumpang angkutan udara menurun signifikan pada H-7 hingga H+7 Lebaran 2019, yakni sebanyak 3.522.585 pemudik atau menurun sebesar 27,37 persen dibanding tahun 2018 sebanyak 4.850.028 pemudik.

Di sisi lain, terdapat peningkatan jumlah pemudik yang menggunakan angkutan darat selama arus mudik dan arus balik pada H-7 hingga H+7 Lebaran yakni sebanyak 4.160.622 atau meningkat 11,19 persen dari tahun 2018 sebanyak 3.741.741 pemudik.

Adapun, pemudik menggunakan moda angkutan laut sebanyak 1.486.065 pemudik atau meningkat 8,77 persen dari tahun 2018 sebanyak 1.366.254 pemudik.

Pemudik yang menggunakan angkutan penyeberangan sebanyak 4.086.407 pemudik atau meningkat sebanyak 0,43 persen dari tahun 2018 yang sebanyak 4.068.968 pemudik.

Sementara itu, pemudik menggunakan moda kereta api sebanyak 5.087.342 meningkat 6,62 persen dari tahun 2018 sebanyak 4.771.324 pemudik.

Total pemudik selama masa lebaran 2019 sebanyak 18.343.021 pemudik atau menurun menurun 2,42 persen dibandingkan pada 2018 sebanyak 18.798.315 pemudik.


 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kalimantan timur, Mudik Lebaran, Ibu Kota Dipindah

Sumber : Antara

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top