Semen Indonesia Memperkuat Perekonomian Nasional

Perjalanan dari Jakarta ke Solo bisa ditempuh dalam waktu 7 jam, lebih singkat dibandingkan dengan menggunakan mode kereta api yang memakan waktu sekitar 8 jam.
MediaDigital
MediaDigital - Bisnis.com 23 Agustus 2019  |  20:06 WIB

MEMPERKUAT PEREKONOMIAN NASIONAL

Bisnis.com, JAKARTA -- Tama Pengestu (25), salah satu karyawan swasta di Jakarta, bercerita jika mobilitasnya saat ini semakin mudah setelah Tol Trans Jawa mulai beroperasi.

Perjalanan dari Jakarta ke Solo bisa ditempuh dalam waktu 7 jam, lebih singkat dibandingkan dengan menggunakan mode kereta api yang memakan waktu sekitar 8 jam.

Jalan tol yang membentang dari Merak hingga Pasuruan ini ternyata mampu memberikan dampak yang signifikan kepada masyarakat.

Tidak hanya mampu memangkas waktu tempuh, jalan tol juga bisa menjadi salah satu alat untuk menggerakkan perekonomian di wilayah sekitar yang dilalui.

Pada masa pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla, pembangunan infrastruktur menjadi program utama.

Dalam pelaksanaan kebijakan ini, industri semen memegang peranan yang penting.

Hal ini tak terlepas dari semen yang menjadi salah satu material utama dalam pembangunan infrastruktur.

Ki Syahgolang Permata, Corporate Secretary PT Adhi Karya (Persero) Tbk., menyatakan dalam pembangunan infrastruktur, semen sangat dibutuhkan karena sebagai bahan beton.

“Konstruksi tidak bisa lepas dari beton yang unsur utamanya semen,” ujarnya.

Hal senada juga disebutkan oleh Corporate Secretary PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. Mahendra Vijaya. Tidak hanya jalan tol, tetapi proyek lain seperti pelabuhan, bandara, waduk, dan lainnya juga memerlukan beton.

Selama pemerintah masih menggalakkan pembangunan infrastruktur, dia menilai serapan semen di dalam negeri akan tetap tumbuh.

Pernyataan ini diamini oleh Asosiasi Semen Indonesia (ASI).

Widodo Santoso, Ketua ASI, menyebutkan sepanjang 2019 konsumsi semen dalam negeri diproyeksikan masih tumbuh positif, sekitar 3%--4%. Sektor infrastuktur menjadi salah satu pendorong pertumbuhan tersebut.

Sepanjang tahun lalu, konsumsi semen tercatat tumbuh 4,9% secara tahunan atau mencapai 69,51 juta ton.

Dengan pertumbuhan sebesar 4,9% tersebut, terjadi kenaikan konsumsi semen domestik sebesar 3,16 juta ton.

Pertumbuhan permintaan tersebut wajar terjadi karena kebutuhan sektor infrastruktur dan juga perumahan meningkat.

"Kenaikan tersebut didominasi oleh permintaan di Jawa dan Sumatra, dengan porsi sekitar 74%. Sisanya, berasal dari Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, dan kawasan Indonesia Timur," ujarnya.

KAWASAN INDUSTRI

Pembangunan infrastruktur juga tidak bisa dipisahkan dari pembangunan kawasan industri.

Kawasan industri ini membutuhkan kelengkapan infrastruktur seperti jalan tol dan pelabuhan untuk mendukung aktivitas bisnis di dalamnya.

Tidak hanya itu, pembangunan pabrik serta fasilitas di kawasan industri juga menyerap semen.

Hingga November 2018, sebanyak 10 kawasan industri telah beroperasi yang berlokasi di Morowali, Bantaeng, Konawe, Palu, Sei Mangkei, Dumai, Ketapang, Gresik, Kendal, dan Banten.

Salah satu contoh kawasan industri yang berhasil adalah KI Morowali.

Pengembangan kawasan ini membawa efek luas bagi pertumbuhan ekonomi, baik daerah maupun nasional.

Salah satunya adalah peningkatan Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Morowali rata-rata mencapai 29% selama periode 2010-2016.

Pada 2014, PDRB Morowali tercatat senilai Rp7,5 triliun dan meningkat menjadi Rp14,6 triliun pada tahun lalu.

Dalam 5 tahun mendatang, diproyeksikan PDRB Morowali bisa berada di angka Rp48,3 triliun.

Tidak hanya Morowali, PDRB Sulawesi Tengah juga tercatat tumbuh dari Rp71,6 triliun pada 2014 menjadi Rp91,1 triliun. Pada 2020, PDRB provinsi ini diproyeksikan mencapai Rp190,20 triliun dengan sumbangan dari sektor industri sebesar 35,12%.

Dengan demikian, industri semen menjadi bagian tak terpisahkan dari pemerataan pembangunan infrastruktur yang memperkokoh perekonomian Indonesia.

DUKUNGAN SEMEN INDONESIA

Sebagai produsen semen terbesar di Indonesia, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk., terus berupaya memenuhi kebutuhan dalam negeri seiring dengan gencarnya proyek pembangunan yang dicanangkan pemerintah.

Teranyar, emiten dengan kode saham SMGR ini mengambil alih 80,6% kepemilikan saham PT Holcim Indonesia Tbk.

Selanjutnya, melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 11 Februari 2019, nama PT Holcim Indonesia Tbk. berubah menjadi PT Solusi Bangun Indonesia (SBI) Tbk.

Holcim Indonesia merupakan perusahaan semen terbesar ketiga di Indonesia, memiliki 4 pabrik semen dengan kapasitas 14,8 juta ton per tahun dan 30 fasilitas ready-mix.

"Bergabungnya PT Solusi Bangun Indonesia (SBI) akan meningkatkan diversifikasi produk yang ditawarkan ke pelanggan," ujar Kepala Departemen Komunikasi Perusahaan Semen Indonesia Sigit Wahono.

Untuk menjangkau seluruh wilayah Indonesia, Semen Indonesia memiliki fasilitas produksi dan distribusi yang luas.

Misalnya, di Aceh perseroan memiliki pabrik Semen Andalas, di Sumatera Barat terdapat Semen Padang, di Jawa terdapat Semen Gresik, dan di Sulawesi terdapat Semen Tonasa yang menjangkau Indonesia Timur.

Selain itu, perseroan juga memiliki 25 Packing Plant yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia mulai Aceh hingga Papua.

"Jadi, kami memiliki semuanya untuk memenuhi seluruh kebutuhan pelanggan," tutup Sigit Wahono.

Adapun, dalam upaya memperkokoh negeri, Semen Indonesia turut serta berpartisipasi dalam berbagai proyek pembangunan, seperti Yogyakarta International Airport (YIA), Dramaga Kalibaru 2, Tol Cikampek Elevated, Tol Pandaan-Malang, Tol Samarinda-balikpapan, Tol Manado-Bitung dan lainnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
semen indonesia, infrastruktur

Editor : MediaDigital

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top