Kerusuhan di Papua Pengaruhi Kunjungan Wisatawan

Sejumlah agen perjalanan wisata yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (Asita) Papua mengkhawatirkan penurunan kunjungan wisatawan usai aksi unjuk rasa yang berakhir rusuh si sejumlah kota di Papua dan Papua Barat beberapa waktu lalu.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 23 Agustus 2019  |  03:00 WIB
Kerusuhan di Papua Pengaruhi Kunjungan Wisatawan
Seorang wisatawan mancanegara berfoto diri dengan latar belakang pemandangan di Pianemo, Raja Ampat, Papua Barat - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah agen perjalanan wisata yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (Asita) Papua mengkhawatirkan penurunan kunjungan wisatawan usai aksi unjuk rasa yang berakhir rusuh si sejumlah kota di Papua dan Papua Barat beberapa waktu lalu.

Ketua DPD Asita Papua Iwanta Perangin-Angin mengatakan kondisi tersebut membuat wisatawan memilih untuk menunda perjalanannya ke provinsi di ujung timur Tanah Air itu. “Memang mereka bilang hanya menunda, tapi biasanya itu adalah cara halus mereka untuk membatalkan atau mengalihkan kunjungan wisatanya ke tempat lain,” katanya kepada Bisnis, Kamis (22/8).

Kondisi tersebut membuat agen perjalanan wisata di Papua semakin terpukul. Pasalnya, mereka juga harus menanggung kerugian akibat terhentinya aktivitas pariwisata di Papua.

Menurut Iwanta, kerugian yang harus ditanggung oleh agen perjalanan wisata di Papua mencapai Rp300 juta. Kerugian paling besar dirasakan oleh mereka yang menawarkan paket wisata ke sejumlah destinasi wisata unggulan di Papua.

“Setiap agen perjalanan wisata itu seharusnya bisa menjual sampai dengan 20 paket wisata (per hari), harga satu paket biasanya sekitar Rp7 juta,” ungkap Iwanta.

Lebih lanjut, penurunan kunjungan wisatawan ke Papua juga terjadi karena masa puncak kunjungan sudah berakhir pada pekan lalu. Selain itu, Festival Lembah Baliem yang menjadi salah satu atraksi wisata unggulan di Papua sudah berlangsung pada 7-9 Agustus lalu.

Kunjungan wisatawan ke Papua secara keseluruhan masih didominasi oleh kunjungan wisatawan mancanegara yang mencapai 80% dari total kunjungan.

“Berbeda dengan Papua Barat yang seimbang persentasenya antara wisatawan mancanegara dan domestik karena kepopuleran destinasi wisata Raja Ampat (di dalam negeri) mungkin ya,” kata Iwanta.

Ketua Umum Asita Nunung Rusmiati meyakini bahwa dampak dari kericuhan yang terjadi sejumlah kota di Papua dan Papua Barat tidak akan berlangsung lama. Pasalnya, pemerintah telah mengambil langkah yang tepat untuk membuat situasi kembali kondusif.

Nunung mengapresiasi langkah pemerintah terutama gubernur dari daerah-daerah yang terlibat sudah bertemu menyelesaikan masalah ini secara damai.

“Apa yang dilakukan oleh gubernur-gubernur ini justru meyakinkan dunia internasional bahwa Indonesia aman karena pemerintah mampu menyelesaikan masalah ini dengan baik dalam waktu yang cukup singkat,” katanya.

Nunung juga meyakini bahwa kunjungan wisatawan ke sejumlah destinasi wisata di Papua dan Papua Barat akan semakin meningkat karena didukung oleh gencarnya promosi baik di dalam maupun luar negeri. Namun, promosi tersebut menurutnya tidak cukup untuk mendongkrak kunjungan wisatawan ke Papua dan Papua Barat.

Menurut Nunung tingginya harga tiket pesawat ke Papua dan Papua Barat masih menjadi kendala terbesar. Harga tiket pesawat yang tinggi membuat paket wisata ke Papua dan Papua Barat sulit bersaing dengan paket wisata lainnya, baik di dalam maupun luar negeri. Oleh karena itu, ia berharap pemerintah bisa membantu menurunkan harga tiket pesawat yang menjadi komponen terbesar dalam sebuah paket wisata.

“60% harga paket wisata itu adalah harga tiket pesawat, kami berharap bisa diberikan subsidi untuk mendorong kunjungan wisatawan ke Papua dan Papua Barat,” ujar Nunung.

Sementara itu, Kementerian Pariwisata mengaku belum menerima laporan terkait dengan pembatalan kunjungan wisatawan ke Papua dan Papua Barat akibat kerusuhan yang dipicu oleh insiden yang melibatkan mahasiswa papua dan ormas setempat di Surabaya dan Malang, Jawa Timur itu.

Kepala Biro Humas Kemenpar Guntur Sakti mengatakan kerusuhan tersebut merupakan bagian dari dinamika politik yang dimaklumi oleh sebagian besar wisatawan. “Wisatawan sudah bisa memahami hal ini, ini bisa terjadi di negara manapun, tidak hanya Indonesia,” katanya.

Lebih lanjut, Guntur memaparkan bahwa Kemenpar akan terus mempromosikan Papua dan Papua Barat sebagai destinasi wisata unggulan Tanah Air, baik di dalam maupun luar negeri lewat branding khusus atau festival yang masuk ke dalam Calendar of Event Indonesia.

Dirinya juga berharap kenaikan kunjungan wisatawan ke Papua dan Papua Barat bisa membuat kesejahteraan masyarakat disana semakin merata. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pariwisata, papua

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top