Kargo Udara Tertekan, Pelaku Tetap Optimistis Bisa Tumbuh 10 Persen

Industri kargo udara tengah menghadapi berbagai tekanan baik dari dalam maupun dari luar negeri. Kendati demikian, pelakunya tetap optimistis industri ini dapat tumbuh hingga 10 persen pada tahun ini.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 22 Agustus 2019  |  19:25 WIB
Kargo Udara Tertekan, Pelaku Tetap Optimistis Bisa Tumbuh 10 Persen
Ilustrasi - Aktivitas di sebuah pesawat kargo logistik. - Bisnis/Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Industri kargo udara tengah menghadapi berbagai tekanan baik dari dalam maupun dari luar negeri. Kendati demikian, pelakunya tetap optimistis industri ini dapat tumbuh hingga 10 persen pada tahun ini.

Pengurus Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) di Bandara Soekarno-Hatta, Arman Yahya menuturkan berbagai persoalan mulai mengepung industri kargo udara baik untuk tujuan domestik maupun internasional.

Dia bercerita pengiriman kargo domestik terutama di pulau Jawa, Sumatra, hingga Lombok mulai beralih menggunakan transportasi darat seperti truk karena para pemiliknya menganggap lebih efisien.

Dengan demikian, motor penggerak masih dari kiriman antar pulau yang cukup jauh dan kiriman di wilayah timur Indonesia.

Sementara itu, pengiriman kargo internasional, yakni pengiriman ekspor tengah dalam keadaan statis karena perlambatan ekonomi akibat dari produksi dan konsumsi yang melambat.

Adapun kargo internasional dari impor masih menghadapi tekanan pelemahan rupiah, sehingga mengalami hal yang tidak jauh berbeda. Apalagi, gaji pegawai naik hingga 10 persen, beban perusahaan agen kargo pun sedikit meningkat.

"Tidak ada jurus ampuh [mengobati ini], waktu yang akan menyembuhkan. Untuk domestic cargo, tunggu saja sampai masyarakat terbiasa hitung ongkos kirim naik, tapi toko online akan adu promo gratis ongkos kirim," ujarnya kepada Bisnis, Kamis (22/8/2019).

Menurutnya, ketika ada promosi gratis ongkos kirim, maka yang mampu bersaing adalah pemain kargo besar, pengusaha kecil pun sedikit demi sedikit secara alami akan tutup.

Dia melihat ada harapan untuk pertumbuhan ekspor kargo udara mengingat perang dagang antara Amerika Serikat dan China masih terus berlanjut.

Menurutnya, produksi manufaktur Indonesia terutama untuk ekspor dapat meningkat dan bisa mengisi kebutuhan barang di kedua negara tujuan ekspor tersebut.

"Sebagai pebisnis cargo yang [sudah] 28 tahun tetap optimistis, biarpun sudah di bulan Agustus, prediksinya kenaikan volume kargo dapat mencapai 10 persen," tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kargo udara, alfi

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top