Peningkatan Daya Listrik di Bali Diharapkan Datang Dari EBT

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengharapkan setengah peningkatan daya mampu pasok tersebut dapat dicapai dari energi baru terbarukan (EBT).
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 22 Agustus 2019  |  00:37 WIB
Peningkatan Daya Listrik di Bali Diharapkan Datang Dari EBT
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). - ANTARA / Prasetia Fauzani

Bisnis.com, JAKARTA – Daya mampu pasok listrik bali diharapkan meningkat 51 persen menjadi 2.000 MW pada 2025 dari kondisi eksisting 1.320 MW.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengharapkan setengah peningkatan daya mampu pasok tersebut dapat dicapai dari energi baru terbarukan (EBT). Tambahan kapasitas EBT di Bali nanti utamanya dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan penggunaan Crude Palm Oil (CPO) pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).

“Daya mampu bali saat ini sekitar 1.300 MW. Sampai tahun 2025 kita perkirakan tambah jadi 2.000 MW. Saran saya 2 saja. Pertama, tambahannya itu kan 700 MW. Jadi 350 MW dibangun di provinsi Bali, dan 350 MW lagi dipasok dari Pulau Jawa, dengan Jawa Bali Connection yang 500 kV. Harapan saya, 350 MW yang dibangun di Bali ini seluruhnya dari energi baru dan terbarukan (EBT),” katanya seperti dikutip dalam rilis Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pemerintah Provinsi Bali dengan PT PLN (Persero), Rabu (21/8/2019).

Menurutnya, peningkatan konsumsi listrik di Provinsi Bali sebagai ikon pariwisata Indonesia harus diimbangi dengan infrastruktur ketenagalistrikan yang mumpuni. Pembangunan pembangkit energi bersih yang mengutamakan pembangkit dari energi baru terbarukan (EBT) di Pulau Dewata juga perlu penguatan agar sistem kelistrikan menjadi lebih stabil, mengingat karakteristik pembangkit EBT bersifat intermiten.

“Untuk itu Pemerintah akan menyatukan sistem kelistrikan Bali dengan sistem di Pulau Jawa, agar layanan listrik lebih andal dan konsisten,” katanya.

Jonan berharap dengan kerja sama ini dapat meningkatkan pembangunan pembangkit EBT di pulau Bali, mengingat Bali memiliki berbagai potensi energi pembangkit EBT yang dapat dikembangkan, seperti surya, panas bumi, air, biomassa, angin, hingga arus laut. Pengembangan ini juga memdorong tercapainya target bauran energi secara nasional dari EBT yang sebesar 23 persen pada tahun 2025.

Dengan adanya JBC lanjut Jonan, akan diperoleh manfaat seperti cadangan bersama sistem Jawa Bali, bauran energi dan skala keekonomian, serta Biaya Pokok Penyediaan (BPP) tenaga listrik yang rendah karena dapat menggunakan PLTU Ultra Super Critical di Jawa dan transmisi JBC 500 kV.

“Pemerintah sekarang mendorong penggunaan kompor listrik atau kompor induksi sebagai pengganti kompor Liquefied Petroleum Gas (LPG). Dengan energi listrik berasal dari sumber-sumber energi domestik, kompor listrik bisa mengurangi impor LPG yang mencapai 5 juta ton setahun,” katanya.

Sementara itu, Gubernur Bali I Wayan Koster mengatakan bahwa Bali sebagai destinasi wisata dunia memiliki visi yang fokus membangun keseimbangan antara alam, manusia dan budaya yang bersih.

“Dalam rangka pelaksanaan visi ini kami menyiapkan skenario bali mandiri energi dan energinya adalah energi bersih. Kenapa mandiri energi? karena Bali adalah tujuan wisata dunia dan energinya harus bersih,” jelasnya.

Sebagai informasi, rasio elektrifikasi di Provinsi Bali telah mencapai 100 persen. Sementara daya mampu pembangkit yang dihasilkan untuk kebutuhan pasokan listrik Bali sebesar 1.320 mega watt (MW), yang dipasok dari PLTU Celukan Bawang 380 MW, kabel laut Jawa-Bali 400 MW, PLTDG Pesanggaran 182 MW, PLTG Pesanggaran 22 MW dan pembangkit BBM 336 MW.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
PLN, ebt

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top