Dongkrak Kualitas, Industri Garam Lokal Perlu Tambahan Investasi

Industri garam memerlukan investasi tambahan agar kualitas garam lokal meningkat dan mampu memenuhi kebutuhan sektor pengolahan lainnya.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 21 Agustus 2019  |  19:03 WIB
Dongkrak Kualitas, Industri Garam Lokal Perlu Tambahan Investasi
Petambak memanen garam di desa Tanjakan, Krangkeng, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (10/7/2019). - ANTARA/Dedhez Anggara

Bisnis.com, JAKARTA — Industri garam memerlukan investasi tambahan agar kualitas garam lokal meningkat dan mampu memenuhi kebutuhan sektor pengolahan lainnya.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan supaya garam lokal dapat terserap sesuai kebutuhan dunia industri, diperlukan peningkatan produktivitas dan kualitas garam melalui investasi.

“Seperti yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo, Indonesia memerlukan investasi yang cukup besar dalam upaya peningkatan kualitas garam lokal,” katanya Rabu (21/8/2019).

Airlangga mengatakan dengan adanya investasi masuk akan terjalin sinergi antara sektor industri dengan para petani garam. Adapun di lahan garam desa Nunkurus, Kupang, NTT, yang merupakan wilayah penghasil garam, sudah masuk investasi senilai Rp110 miliar.

Sinergi tersebut, katanya, akan meningkatkan kesejahteraan para petani garam dalam negeri, sekaligus menjamin ketersediaan garam sebagai bahan baku dan bahan penolong bagi sektor industri. Upaya ini juga dibutuhkan dukungan dari pemerintah daerah.

Airlangga optimistis NTT berpotensi untuk menjadi produsen garam industri nasional dan dapat menjadi substitusi impor. “Dengan mengganti garam industri impor, pemerintah akan menghemat devisa,” katanya.

Menurutnya, peningkatan kualitas garam nasional harus dimulai dari proses hulu produksi garam oleh petani, misalnya dengan menjaga konsistensi masa produksi garam sampai memperoleh hasil yang optimal, dengan kandungan NaCl untuk garam konsumsi minimal 94% dan garam industri 97%.

Oleh karena itu, diperlukan pemanfaatan teknologi modern sehingga bisa mencapai standar kualitas yang sesuai kebutuhan industri dan akan meningkatkan serapan garam lokal. Kadar NaCl yang tinggi juga harus disertai dengan impuritas dan cemaran logam yang rendah.

“Di samping itu, pemerintah akan mendorong secara bertahap dalam upaya peningkatan kualitas garam, termasuk untuk tambahan ketersediaan lahan.”

Adapun, pada hari ini, Presiden Jokowi dan Airlangga bersama rombongan meninjau tambak garam di desa Nunkurus, Kupang, NTT. Di lokasi ini, kualitas garamnya dinilai cukup baik untuk diserap oleh industri.

Lahan yang baru tergarap seluas 10 hektare untuk produksi garam, dari potensi lahan yang tersedia mencapai 600 hektare. Khusus di Teluk Kupang, tersedia lahan garam seluas 7.700 hektare, sisanya tersebar di berbagai wilayah NTT, antara lain di Kabupaten TTU, Malaka, Sabu Raijua, Rote Ndao dan Nagekeo.

Secara keseluruhan, potensi lahan tambang garam di NTT mencapai 60.000 hektare dan paling sedikit 21.000 hektare dapat direalisasikan dalam waktu 2-3 tahun ke depan. Dari lahan seluas 21.000 hektare tersebut, produksi garam akan mencapai 2,6 juta ton per tahun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
garam

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top