B30 Diterapkan 2020, Pelumas Shell Klaim Aman Digunakan

Shell siap mematuhi peraturan pemerintah terkait dengan mandatori penggunaan biodisel. Shell akan menyesuaikan pelumas yang diproduksinya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 20 Agustus 2019  |  16:55 WIB
B30 Diterapkan 2020, Pelumas Shell Klaim Aman Digunakan
Logo Shell.

Bisnis.com, JAKARTA – Shell Lubricants Indonesia mengklaim pelumas produksinya mampu dan aman digunakan pada mesin kendaraan yang menggunakan bahan bakar biodiesel hingga mandatori 30 persen.

Direktur Pelumas PT Shell Indonesia Dian Andyasuri mengatakan selagi uji jalan Biodiesel 30 persen (B30) dilakukan hingga Oktober 2019 , perseroan juga mempersiapkan diri agar pelumas Shell mampu digunakan pada kendaraan berbahan bakar B30. Apalagi, dengan rencana penerapan B30 pada 2020, mesin kendaraan juga perlu melakukan upgrade.

Menurutnya, Shell siap mematuhi peraturan pemerintah terkait dengan mandatori penggunaan biodisel. Shell akan menyesuaikan pelumas yang diproduksinya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. “Shell definitely bisa sampai B30,” katanya, Selasa (20/8/2019).

Sementara itu, terkait dengan wacana penerapan bahan bakar nabati 100 persen, Shell mengaku masih perlu melakukan melakukan pengujian dan serangkaian persiapan. Apalagi, penggunaan bahan bakar nabati 100 persen pada kendaraan belum dilakukan oleh negara lain sehingga menjadi suatu hal baru jika Indonesia mampu menerapkannya.

“Itu masih dalam wacana [bahan bakar nabati100 persen], kmi masih terus menguji kesiapan kami, sampai sekarang semua pemain pelumas masih dalam persiapan dan ancang-ancang karena B100 tidak ada di negara lain, ya kita nacang-ancang,” katanya.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Djoko Siswanto mengharapkan uji jalan atau road test biodiesel 30 persen (B30) bisa dipercepat dari target realisasi di Oktober 2019.

Apabila selama pengujian tidak ada kendala, kemungkinan target penyelesaiannya bisa dipercepat. Terlebih, hingga saat ini belum ada kendala yang ditemukan selama pengujian B30.

“Tidak ada kendala, mulus-mulus, target [mandatori B30] Januari, kita selesai [roadtest] Oktober,” katanya.

Menurutnya, apabila dalam penerapan nantinya B30 tidak berhasil, pemerintah setidaknya telah cukup sukses menjalankan B20. Hingga saat ini serapan terbesar B20 adalah kendaraan, diikuti pembangkit listrik dan industri.

Apalagi, pembangkit listrik juga terus mengupayakan serapan bahan bakar nabati. Saat ini pembangkit sudah memanfaatkan B30 sebagai bahan bakar. PLN juga melakukan uji coba pemanfaatan bahan bakar nabati berupa CPO murni pada empat pembangkit sedang dilakukan.

Selain itu, Djoko juga mengatakan pihaknya siap mendukung dan mengupayakan semaksimal mungkin arahan presiden untuk menerapkan B50 di akhir 2020.

“Kita punya banyak minyak sawiit, sekarang lagi uji road test, PLN juga sudah pakai B30, itu kan membantu mengurangi impor. Kalau kita bandingin 2018, solar 2019 sudah menurun jauh, ke depan lebih besar lagi pengurangannya,” katanya.

Presiden Joko Widodo mengharapkan Indonesia nantinya bisa produksi bahan bakar nabati 100 persen sebagai pengganti solar. Menurutnya, Indonesia harus terus meningkatkan besaran FAME dibanding solar dalam campuran bahan bakar nabati atau biodiesel. Bahkan, diharapkan Indonesia bisa memproduksi 100 persen bahan bakar nabati tanpa campuran solar.

“Tapi kita bisa lebih dari itu, kita bisa membuat B100,” katanya

Adapun berdasarkan regulasi Peraturan Menteri Nomor 12 tahun 2015, tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 32 Tahun 2008 Tentang Penyediaan, Pemanfaatan, dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) Sebagai Bahan Bakar Lain, Indonesia akan mulai menggunakan B30 pada 2020.

Serapan unsur nabati (fatty acid methyl eter/FAME) untuk biodiesel 20 persen (B20) hingga Juni 2019 telah mencapai 95 persen dari target kumulatif pertengahan tahun atau sebesar 2,9 juta kiloliter.

Adapun hingga akhir tahun 2019, alokasi serapan biodiesel ditarget sebesar 6,2 juta kiloliter (kl). Dengan serapan dari Januari hingga Juni 2019 adalah sebesar 2,9 juta KL, maka serapan telah mencapai 47 persen dari alokasi. Artinya, serapan biodiesel hampir mencapai target pertengahan tahun ini yang seharusnya 3,1 juta KL.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
shell, Shell Indonesia

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top